Ekspedisi Gila Taklukkan Parijoto

| More
Tanggal : 02-08-2010

EXPEDISI PARIJOTONama Air Terjun Parijoto, mendadak terkenal. Belum genap setahun ditemukan oleh warga yang sedang berladang di hutan, keindahan alam Air Terjun Parijoto langsung terkenal di seantero Kediri Raya. Air terjun yang berada di puncak ketinggian lereng selatan Gunung Wilis tersebut, konon menyimpan sejuta misteri yang belum terpecahkan.

Ironisnya, meskipun nama Parijoto sudah sangat akrab dengan telinga masyarakat, ternyata tidak banyak orang yang sudah menikmati keindahan air terjun Parijoto. Jangankan mandi dan berendam di kolam batu raksasa di bawah air terjun, yang melihat saja belum banyak. Maklum, lokasi air terjun Parijoto memang tidak mudah dicapai, karena medan yang sangat sulit.

 

Dibutuhkan keberanian dan kenekatan luar biasa untuk mencapai lokasi, yang dipenuhi dengan hutan bambu dan semak belukar. Belum lagi, masih banyak binatang liar berkeliaran, yang bisa membuat orang celaka. Sabtu (31/8) pagi, tim ekspedisi ANDIKA, yang beranggotakan kru Radio ANDIKA Kediri, mencoba mencapai lokasi Air Terjun Parijoto. Bukan hanya sekadar hobi, keinginan kuat untuk bisa menyaksikan keindahan Air Terjun Parijoto, membuat semangat tim ekspedisi ANDIKA membara untuk sampai di lokasi.

 

Air Terjun Parijoto, berada di lereng selatan Gunung Wilis, berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Kediri. Lokasinya berada di areal Perhutani, tepatnya di Dusun Tumpakdoro, Desa Pamongan Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Dari Kota Kediri, bisa dicapai dengan mobil maupun sepeda motor. Namun, mobil dan sepeda motor hanya bisa sampai di ujung Dusun Tumpakdoro, selebihnya harus mengandalkan kekuatan kaki dan stamina yang prima.

 

TIGA MOBILTim ekspedisi ANDIKA, yang berjumlah 18 orang, menggunakan 3 mobil adventure untuk menuju Air Terjun Tumpakdoro. Mobil harus tertahan di Tumpakdoro, karena kondisi jalur yang sempit, berupa jalan setepak. Kondisinya juga becek, karena malam sebelumnya, hujan turun cukup deras.

 

Terus terang, hati saya sempat ciut juga, ketika mendengar sulitnya jalur menuju kawasan Air Terjun Parijoto. Seminggu sebelumnya, saya sudah mendengar cerita langsung dari Kabag Humas Pemkab Kediri, Pak Eko Setyono, yang baru saja menembus keganasan hutan Pamongan, untuk mencapai Air Terjun Parijoto. Namun sebagai pimpinan tim ekspedisi, saya tidak boleh menampakkan sedikitpun raut kekhawatiran di wajah saya. Harus tetap optimis.

 

Termasuk, ketika menata perbekalan di Dusun Tumpakdoro, saya mendengar beberapa pemuda setempat berbisik bisik. Sempat terdengar sindiran, atau peringatan, “apa ya mungkin, perempuan-perempuan cantik ini bisa sampek di lokasi?, kata seorang pemuda pada temannya sambil tertawa cekikikan. Pelecehan, piker saya.

 

Gianto, anggota ekspedisi, juga sempat bertanya pada warga, berapa jarak ke air terjun Parijoto. Warga tersebut sempat menjawab sekitar 6 kilometer. Refleks, saya injak kaki Gianto, dengan maksud agar tidak sampai terdengar teman teman anggota ekpedisi ANDIKA. Saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika mereka sampai mendengar jarak 6 kilometer yang harus mereka tempuh. Pasti banyak anggota ekpedisi ANDIKA, yang sebagian besar perempuan, mengundurkan diri. Atau, tetap berangkat, meski hatinya sudah ciut. Maklum, sebagian anggota ekspedisi biasa hidup enak, di ruang ber AC. Tidak terbiasa dengan kehidupan sulit.

 

KE PARIJOTOPadahal, ekpedisi menuju air terjun Parijoto ini merupakan prestise tersendiri. Bupati Kediri, Sutrisno, sempat menantang agar teman teman media massa, berani melakukan liputan khusus ke Air Terjun Parijoto. Namun hingga kini, sebagai pengurus PWI Kediri, saya belum pernah mendengar ada wartawan yang datang langsung ke lokasi. Padahal, beritanya sudah sangat gencar. Saya merasa itu tantangan. Sebagai media terkemuka, saya ingin Radio ANDIKA FM berada langsung di lokasi. Tidak hanya liputan, tapi membawa rombongan tim ekspedisi. Karena itu, meski hati saya juga sempat ciut, saya tetap berusaha membangkitkan semangan teman teman.

 

Untuk memandu perjalanan, kami ditemani dua warga Pamongan, Pak Suryono dan Sukardi. Mereka bertugas memandu rute, dan membantu mengangkut perbekalan. Semula, saya sempat under estimate terhadap mereka. Maklum, posturnya kecil, dan sudah tua. Tapi pikiran jelek saya langsung runtuh, ketika melihat langkah kaki Pak Sukardi dan Suryono terasa ringan, bahkan seakan mengajak berlari saja. Tidak terlihat capek atau beban sama sekali. Pakai ramuan apa ya….

 

Dari tempat pemberhentian, perjalanan panjang dilanjutkan dengan berjalan kaki. Semula, jalur tanah terasa nyaman. Pemandangan Kanan kiri juga tampak sangat hijau oleh tumbahan jagung dan pohon mahoni. Bahkan, Aida, Soli, Fuad, dan anggota tim, terlihat “narsis”, sibuk menyalurkan hobi berfoto ria di sepanjang jalan. Tidak peduli momen apapun difoto.

 

ISTIRAHAT DULUDua kilometer perjalanan kaki, tenaga mulai terkuras, karena jalur mendaki cukup tajam. Beberapa anggota tim, mulai ngos ngosan. Rombongan sempat beristirahat untuk sarapan pagi, di sebuah jembatan darurat, yang baru sebulan dibangun dengan konstruksi kayu dan urukan tanah lembek.

 

Perjalanan selanjutnya, benar benar menyita tenaga dan perhatian ekstra. Jalur setapak yang baru dibuka warga, berubah menjadi kubangan lumpur, karena siraman air hujan. Untuk melaluinya, anggota tim harus berpegangan tangan. Maklum, licin dan berbahay, karena dekat dengan jurang. Tidak terlihat lagi, gurauan teman teman, karena sibuk menaklukkan jalanan. Namun saya tidak sempat memperhatikan, saat itu apa masih ada yang sempat berfoto ria. Feeling saya kok tidak ada.

 

AMEL KRAMMemasuki 4 kilometer perjalanan, korban mulai jatuh. Amalia Rosyadi, penyiar Citra ANDIKA, mendadak diserang kram di kaki. Amel, panggilan akrabnya, terjatuh. Untung ada Fuad yang langsung mengamankan, agar terhindar dari jurang yang menganga di bawahnya. Tangisannya langsung terdengar keras memecah keheningan hutan, ketika jempol kakinya ditarik Fuad.

 

 

ANTOK KRAMKram kaki juga menyerang Anto kristian, reporter ANDIKA FM. Beberapa anggota tim juga sempat terpeleset dan terjatuh, seperti Vina, Hadi, Diki, Ita, Tita dan Agus. Semangat mulai menurun. Keluhan mulai bermunculan. Saya sadar, saya harus menyuntikkan optimisme, agar teman teman tetap semangat. Pada anggota tim, lewat HT saya sampaikan, perjalanan hanya tinggal 500 meter. Bahkan, suara air terjun sudah terdengar. Tentu saja, itu hanya hayalan saya saja, untuk menyemangati teman teman. Sebenarnya, saya sendiri tidak tahu, berapa lama lagi, air terjun bisa kami capai.

 

RUTE SESATRute paling “sesat” kami temui, pada kilometer 5. Kenapa saya sebut rute “sesat”, karena rute itu baru dibuat warga. Pak Sukardi bilang, baru dibuat seminggu lalu. Kadang kami harus merambat, kadang harus berjongkok atau bahkan merayap, untuk menghindari curamnya jalan, dan rindangnya semak belukar. Resikonya, baju, celana, tas, semua penuh lumpur. Sepatu juga sudah gak keliatan bentuknya. Wajkah cantik teman teman perempuan, sudah hilang. Bahkan sebagian tampak pucat. Takut dan capek menjadi satu.  Disini juga kami temui berbagai binatang aneh, seperti siput dengan rumah bulat, lintah, serta binatang kecil sejenis ulat.

 

PEMANDANGAN INDAHPemandangan indah baru saya dapatkan, ketika dari ketinggian 30 meter, kami melihat air yang mengalir dari atas bukit. Gemericik air terdengar cukup keras, diringi dengan tarian air yang membentuk piramida. Indah sekali. Subhanallah. Lambaian air yang memantul diantara bebatuan cadas, sebelum sampai di bawah, menampilkan orchestra alam yang menakjubkan.

Stamina yang terkuras langsung berenergi kembali. Seperti HP baru dicarger. Umpatan dan gerutuan berbuah ungkapan syukur. Menyaksikan keindahan alam air terjun Parijoto, membuat semangat teman teman bangkit kembali. Karena posisi tim terpisah jarak, kami saling menmgambarkan keindahan Parijoto lewat HT, diringi dengan sorak sorai.

 

MENCEBURKAN DIRITidak ada ekspresi yang ditunjukkan teman teman, kecuali secepatnya berlari, kemudian menceburkan diri ke kolam besar batu cadas, yang barada di bawah guyuran air terjun Parijoto. Airnya sangat dingin karena berada di puncak gunung. Kami berlomba untuk mengeksplorasi kenikmatan yang ada di parijoto. Mandi, terjun bebas, saling semprot air, menjadi pemandangan yang tidak biasa. Mungkin karena selama ini, kami terlalu disibukkan rutinitas pekerjaan di Radio ANDIKA FM Kediri.

Dua jam kami menikmati keindahan alam Parijoto. Selepas itu, perjalanan pulang terasa`lebih ringan. Tita, Vinas, Ita, Amel, Aida dan Inok, anggota perempuan yang saat berangkat terus mengeluh, kali ini lebih banyak diam. Saya tidak tahu persis, apakah mereka diam karena puas, capek atau sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengeluh.

 

Anggota tim ekspedisi yang laki laki, relatif tidak ada masalah. Rudi, yang sempat saya prediksi tidak kuat, malah nyampek lebih dulu, bersama Diki dan Soli. Pak Jupri, security kami, bahkan lebih cepat lagi larinya. Semua menampakkan raut wajah puas bisa menaklukkan hutan lereng Gunung Wilis dan menembus air terjun Parijoto.

 

Yang membuat kami bangga, pamandu kami, Pak Suryono dan Pak Sukardi bilang, sepanjang sejarah baru ada 3 rombongan yang bisa sampai di Air Terjun Parijoto. Pertama, rombongan Kecamatan Mojo. Kedua, rombongan dari Humas Pemkab Kediri. Dan ketiga, rombongan tim ekspedisi Radio ANDIKA FM Kediri.

Selamat ya. Berikutnya kemana lagi ya…………….. (Rofik Huda)

Radio Online

Live Streaming :
Radio 1
Radio 2
Radio 3

Acara Hari Ini

05:00 Mutiara Subuh    
06:00 Kediri Bersemi Weekend
09:00 Citra Andika Jalan Jalan fbnew (real size)

11:00 Kampoeng Loedroek

13:00 Colak Colek

15:00 Gayeng Marem Plus plus fbnew (real size)
17:00
Kediri Hari Ini

18:00 Ekspresi Asik Weekend fbnew (real size)

22:00 Dangdut Top Request

24:00 Warung Lesehan

 

sms andika fm (real size)