Musim Kemarau, Debit Air Sungai di Trenggalek Turun 90 Persen

| More
08 August 2018
waduk1.jpg
Sejumlah aliran sungai di Trenggalek mengalami penurunan debit air pada musim kemarau tahun ini. Bahkan anjloknya debit air mencapai lebih dari 90 persen.

Di Dam Widoro, Kecamatan Gandusari, Trenggalek, saat ini kondisi debit air rata-rata hanya mencapai 170 liter/detik. Padahal pada kondisi musim penghujan debit air rata-rata 4 sampai 5 kubik/detik.

"Kalau di awal musim kering turun menjadi 1 sampai 2 kubik/detik, sehingga apabila dibanding kondisi sebelumnya penurunan debit air ini mencapai lebih dari 90 persen," kata Penjaga Pintu Air DAM Widoro Zaenal Arifin kepada detikcom, Rabu (8/8/2018).
Anjloknya debit air Sungai Tawing tersebut mulai terjadi sejak Maret lalu dan saat ini kondisinya terus mengalami penurunan. Pihaknya memprediksi penurunan debit air masih akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan, mengingat saat ini intensitas hujan masih cukup rendah.

Zaenal menambahkan pasokan air di DAM Widoro hanya berasal dari Sungai Tawing yang mengalir dari wilayah Kecamatan Munjungan dan Kampak. Apabila pasokan menyusut maka distribusi air untuk lahan pertanian dipastikan akan mengalami penurunan.

Turunnya debit air tersebut memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan ribuan hektare lahan pertanian di sebagian wilayah Trenggalek maupun Tulungagung. Sehingga beberapa lahan persawahan yang jauh dari saluran irigasi utama dipastikan tidak akan menerima pasokan air.

"DAM Widoro ini melayani lebih 2.800 hektare persawahan yang ada di Trenggalek dan Tulungagung. Kami tidak bisa berbuat banyak, karena memang semua tergantung cuaca dan pasokan dari Kampak dan Munjungan. Sedangkan di daerah hulu juga banyak digunakan untuk mengairi sawah," jelasnya.

Tidak hanya di DAM Widoro, penurunan debit air juga terjadi di beberapa pintu air lain. DI DAM Cangkring Kecamatan Karangan saat ini justru sama sekali tidak ada aliran air. Pasokan air dari wilayah Mlinjon, Kecamatan Suruh kering total.

Sementara itu, sebagian petani di Trenggalek memilih untuk mengganti jenis tanamannya dari padi ke palawija, seperti kedelai dan jagung. Sedangkan untuk mengairi sawah, mereka memanfaatkan sumur bor.

"Kalau yang di dekat irigasi masih dapat air, kalau yang jauh ya pakai disesel pompa air," ujar salah seorang petani Imam Ma'ruf.(Adhar Muttaqin - detikNews/jko)