Antara Ego Dan Kepentingan

| More
Tanggal : 26-03-2010

kdrt ok

Malam itu saya dan dua karib saya Kang Mamad dan Cak Buari berangkat menuju warung Mbak Kunthi. Warung janda satu anak itu memang menjadi langganan tempat mangkal kami bertiga bersama satu teman lagi Mas Daman seorang guru SD yang berasal dari kampung sebelah.  
Kami seringkali menghabiskan waktu bersama, ngobrol untuk saling tukar pikiran dan pengalaman dan tentunya selalu ditemani kopi manis racikan Mbak Kunthi.


Setibanya di sana ternyata Mas Daman sudah lebih dulu datang. Dia kelihatan sedang serius membaca sebuah koran, begitu seriusnya seakan dia tidak menghiraukan kedatangan kami. “Sedang baca apa Mas Daman?”, sapa Kang Mamad lebih dulu. “Oo kalian to, ini lo berita dari Polresta Kediri tentang fenomena sosial yang cukup unik bagi saya”.”Uniknya gimana to mas?” tanya saya.”Ternyata selama satu tahun dari sekian kasus kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang menimpa istri, 95 persen laporannya dicabut korban ya sang istri itu, ni baca sendiri ”.
Mas Daman lalu menyerahkan koran itu pada saya. “Terus menariknya apa Mas?”, saya mencoba menanggapi.
Sambil membetulkan letak kaca matanya,  Mas Daman lantas kembali bicara, “Kenyataan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa mengedepankan ego pribadi akan sangat merugikan diri sendiri dan orang lain termasuk bisa meruntuhkan sebuah bangunan yang namanya rumah tangga”. “Setujuu” Cak Buari lelaki penjual sate keturunan Madura itu langsung ikut andil, “kasus KDRT juga lebih dikarenakan emosi sesaat sehingga bukan mulut yang bicara tapi tangan”.

Setelah meminum kopi manis yang baru diseduhnya, Mas Daman kembali menanggapi. “Persoalan dalam rumah tangga yang akhirnya berujung kekerasan, pasti dikarenakan ada ketimpangan antara hak dan kewajiban, dua hal ini jika tidak mendapat porsi yang seimbang tentu akan mengganggu keharmonisan rumah tangga, dan jika berat sebelah seharusnya suami atau istri harus bisa dan bersedia berbagi peran, bekerjasama dalam kedudukan yang sama sama menentukan”.
Dengan gaya seperti seorang penceramah Mas Daman masih melanjutkan ucapannya. “Selain itu, khususnya untuk suami jangan mentang mentang sebagai kepala rumah tangga bersikap sak udele dewe atau sewenang wenang dan mau menang sendiri, suami harus mampu menjadi figur pengayom yang semua sikapnya selalu didasarkan atas rasa sayang serta semangat menjaga dan melindungi”.
 “Sampean kok sentimen pada kaummu sendiri to Mas”. Kang Mamad yang sedari tadi sibuk mengunyah kacang juga gabung bicara. “Setiap rumah tangga kan wajar punya persoalan karena berbeda pendapat hingga memicu percekcokan antara istri dan suami, bisa jadi yang salah adalah istri”.

Mendapat protes dari Kang Mamad, Mas Daman hanya tersenyum lalu kembali meneruskan pidato singkatnya, “Yaa pasti, bahkan banyak orang yang bilang percecokan adalah bumbu rumah tangga. Tetapi apapun masalahnya harus dihadapi dengan dada lapang dan pikiran yang jernih, bukan emosi sesaat yang bisa berakibat fatal seperti kekerasan yang dilakukan suami, jika begitu, ujung ujungnya bisa ditebak kalau tidak di kepolisian ya mungkin lebih parah lagi sampai pada hal yang sangat dibenci Tuhan, perceraian”.
“Kalian nyindir saya ya”. Mbak Kunthi tiba tiba berseloroh, kami berempat sejenak terdiam, suasanapun menjadi kaku dan janggal.

Ternyata kami baru sadar materi obrolan kami telah mengingatkan Mbak Kunthi pada suaminya dulu yang telah meninggalkannya, karena Mbak Kunthi tidak bisa menjadi lebih dari sekedar penjaga warung sebagaimana yang diinginkan suaminya.  
“Kok diam semua?” sorot Mbak Kunthi.
Tiga sahabat saya tetap diam dan semuanya menatap saya termasuk Mas Daman, yang berarti saya diminta menjawab pertanyaan Mbak Kunthi.
Sayapun terpaksa angkat bicara, “Bukannya begitu Mbak Kunthi, yaa kami minta maaf telah mengingatkanmu pada luka lama, tetapi sekali lagi tujuan kami hanya mengambil pelajaran dari fenomena sosial yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat kita, begitu kan Mas Daman ?”.

Guru SD itu tidak langsung menjawab, pandangannya menerawang ke arah atap, sepertinya masih menyusun kata kata yang akan diucapkannya. “Dalam kehidupan berkeluarga yang terpenting adalah komunikasi dan kejujuran, komunikasi akan menjadi panas dan tersendat jika tidak disertai dengan kejujuran, sebaliknya  kejujuran tidak akan membawa kemaslahatan jika tidak dikomunikasikan dengan baik, begituu...Menurutmu gimana Cak Buari ?”, Mas Daman balik bertanya pada penjual sate itu.
“Sangat sepakat, terutama tentang bagi peran tadi, saya seringkali bertanggung jawab momong si Centil anakku yang paling kecil saat ditinggal ibunya pengajian di masjid sebelah rumah pak Kades, saya ya biasa saja nggak ada masalah, justru saya malah merasa senang bisa bermain dan guyon dengan anakku ”.

Sesaat kemudian Mbak Kunthi menyodorkan  empat mangkuk berisi spagheti Jawa atau yang biasa disebut mie pangsit. “Ngobrolnya berhenti dulu, ini mienya sudah matang, monggo silahkan !”. Kamipun yang sedari tadi sudah cukup lapar langsung menyambar semangkuk mie yang diberikan Mbak Kunthi dan bersiap menyantapnya, tetapi Mas Daman masih menyempatkan berceramah.
“Sebelum kita makan masih ada yang perlu saya sampaikan, keluarga itu pada hakikatnya adalah sebuah sistem, di mana setiap komponen di dalamnya seperti ayah, ibu dan anak, berhubungan atau berinteraksi secara fungsional untuk mencapai sebuah tujuan”.
“Apa tujuannya Mas?”. Kang  Mamad mencoba minta penegasan. “Tujuannya tentu untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan rohmah yang diridhoi Tuhan semesta alam, paham?!”.

Kami semua langsung menjawab “Pahammmmm”, karena sesungguhnya kami sudah lapar dan ingin segera makan.Yang pasti, dari obrolan ringan dengan handai tolan saya, Cak Buari, Kang Mamad dan Mas Daman, kami merasakan adanya ironi yang tajam. Banyak orang mengakui, mementingkan ego pribadi akan membawa kita ke arah perpecahan, tetapi dalam kenyataanya kita sulit untuk mengendalikan ego. Barangkali salah satunya termasuk saya. (Hadi Kusuma)

Radio Online

Live Streaming :
Radio 1
Radio 2
Radio 3

Acara Hari Ini

05:00 Mutiara Subuh
06:00 Kediri Bersemi
09:00 Citra Andika fbnew
11:00 Kampoeng Loedroek

13:00 Colak Colek
15:00 Gayeng Marem fbnew
17:00
Kediri Hari ini

18:00 Ekspresi Musik Indonsiafbnew
22:00 Senandung Rindu fbnew

24:00 Warung Lesehan

sms andika fm (real size)

Agenda

27-01-2012
20-01-2012
20-01-2012
10-01-2012