
Siang itu ada seorang pemuda mengendarai sepeda pancal masuk ke halaman kantor DPRD Kota Kediri. Di boncengan belakang dia membawa tas, entah apa isinya, juga gulungan tikar kecil, benih tanaman dan bendera merah putih.
Setelah menyandarkan sepedanya dia kemudian menuju ke pos satpam. Terlihat pemuda itu sangat letih dan sesekali menyeka keringat di dahinya. Pada petugas keamanan, dia menyodorkan secarik kertas dan mengaku ingin bertemu ketua dewan. Setelah dipersilakan, ia duduk di loby kantor. Minuman dan makanan yang dusuguhkan dengan cepat dilahapnya hingga tak tersisa.
Saya yang sedari tadi penasaran kemudian menghampirinya. Ia mengenalkan diri bernama Muhamad Roni, lahir di Kabupaten Mesuji Lampung 12 Mei 1988. Pemuda tampan berdarah Jawa-Lampung ini kemudian bercerita tentang tekadnya untuk bersepeda berkeliling Indonesia.
Roni berangkat dari lampung tanggal 28 Oktober 2010, rute dimulai mengelilingi pulau Sumatera. Hanya dengan modal uang Rp 200 ribu Roni berangkat dari kampung halamannya di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung. Ia mentargetkan bisa mengelilingi Indonesia dalam jangka waktu 15 bulan.
Bisa mengelilingi Indonesia dengan bersepeda baginya sebuah kebanggan tersendiri. Tetapi bukan tanpa alasan ia menghabiskan waktu satu tahun lebih menjelajah pulau pulau. Roni membawa pesan cinta lingkungan untuk disampaikan di kota dan kabupaten yang dia singgahi. Dia mengajak semua elemen masyarakat untuk menjaga bumi, mengurangi polusi, hemat BBM dan menanam pohon. Karena menurutnya, bumi kita ini sudah rusak parah akibat perilaku manusia.
Sebagai aktivis lingkungan Roni juga bertujuan untuk mengenal panorama alam dan keindahan pariwisata di Indonesia. Mengenal beragam bahasa daerah, adat istiadat, budaya serta karakter masyarakat. Ia juga berniat menyambung silaturahmi, mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkembangkan rasa cinta tanah air dan berbangsa Indonesia.
Di setiap kota besar yang dikunjungi, Roni berharap bisa bertemu para petinggi daerah. Rupanya, mimpinya tak sia-sia, beberapa pejabat mulai walikota, bupati, ketua dewan, Kapolres sempat dia temui dan mereka memberi apresiasi yang tinggi atas kegigihannya. Tetapi sayang waktu singgah di DPRD Kota Kediri ia tidak bisa bertemu dengan ketua dewan karena saat itu ketua dewan sedang ada agenda ke luar kota. Ia hanya ditemui pegawai sekretariat dewan yang memberinya sedikit bekal untuk meneruskan perjalanan.
Roni mengaku tidak mengalami kendala yang berarti dalam perjalanan panjangnya. Paling paling hanya ban bocor di tengah jalan atau sepedanya sedikit rewel dan itu sudah biasa baginya. Ia sudah menyiapkan peralatan untuk mengatasi itu semua.
Tetapi tidak jarang kondisi buruk dialaminya yaitu ketika ban bocor, sedangkan posisinya berada di area hutan jauh dari perkampungan. Sendirian, tengok kiri kanan hanya sepi yang menyelimuti. Beruntung, beberapa kali kondisi itu dialaminya, tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, misalnya diserang binantang buas atau bahkan dirampok. Hanya ada dua barang berharga yang dibawa, yaitu sepeda dan ponsel. Jika dua barang itu diambil orang, tamatlah mimpinya untuk menjelajah indonesia.
Terus, dimana Roni singgah untuk bermalam, tidur dan melepas lelah ?. Ternyata itu juga tidak menjadi persoalan. Sebelum berangkat Roni sudah mempunyai daftar nama dan alamat anggota Costi yakni sebuah perkumpulan pecinta sepeda kuno yang kabarnya sudah tersebar di semua kota dan kabupaten di Indonesia. Sebagai anggota Costi pasti kedatangannya akan disambut dengan baik termasuk pemenuhan kebutuhan untuk menginap. Selain itu, ia juga mengaku kadang kadang tidur di mushola atau masjid yang singgahinya.
Sedangkan untuk kebutuhan karbohidrat layaknya bensin untuk sepeda motor, Roni membeli makanan di warung dimana ia sedang beristirahat. Atau mendapatkan dari makanan yang disuguhkan ketika ia mampir di kantor pemerintahan maupun dari teman sesama pecinta sepeda kuno. Ia sangat bersyukur karena bisa mencicipi makanan khas setiap daerah yang dilaluinya.
Lalu, darimana Roni mendapatkan uang untuk membeli makan atau minum di perjalanan ?. Meski sedikit malu, ia mengakui sejumlah uang ia dapat dari pemberian pejabat yang didatanginya. Untuk mendapatkannya ia biasanya menyodorkan surat permohonan dukungan yang ditulis tangan terhadap misi lingkungan yang dia lakoni. Jika ada yang memberi dia terima dengan senang hati berapapun jumlahnya. Tetapi jika tidak memberi juga tidak ada masalah karena permohonan dukungan yang dia ajukan sifatnya sukarela. Ketika saya tanya,”Mas, apa ada yang tidak mau memberi,”?. Diapun hanya tersenyum dan bagi saya itu sudah menjadi jawaban. Tetapi ia memastikan bahwa mendapatkan uang bukan tujuan tetapi hanya sekedar penyambung hidup dalam perjalanan mengingat ia tidak membawa bekal uang yang cukup apalagi pegang ATM.
Setelah ngobrol panjang lebar, Roni kemudian pamit undur diri untuk meneruskan perjalanan panjangnya. Dia minta doa semoga bisa menuntaskan misi keliling Indonesia untuk mengkampanyekan tanam pohon dan cinta lingkungan. Target 15 bulan, ia harus sudah kembali ke kampung halaman karena ia juga sudah kangen pada emak, bapak dan 2 adiknya. Setelah bersalaman dengan petugas keamanan dia bergegas menuju tempat parkir dan kembali mengayuh sepeda kebanggannya sambil melambaikan tangan dan senyum tersungging di bibirnya. Selamat jalan kawan, semoga selamat sampai tujuan.(Hadi)
