Kiprah Mega Laras Sinden Cilik Asal Kabupaten Kediri

| More
10 March 2012

MEGA SIDNENANDIKA FM, Kediri- Di Kabupaten Kediri ternyata ada bocah yang mempunyai bakat seni tingkat tingi. Bakatnya adalah menjadi sinden. Kesenian yang jarang sekali diminati bocah lain seusianya. Dialah Febriyani Mega Suputri bocah asal Dusun Katang Desa Sukorejo kecamatan Ngasem. Dia yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP  adalah cikal bakal pesinden masa depan. 

 

Diusianya yang masih 13 tahun, Mega Laras sudah biasa satu panggung atau satu pakeliran dengan pesinden bintang tamu seperti Kitsi Emerson, Keren Elizabeth dari Amerika, Hiromi Kano dari Jepang serta pesinden terkenal lainnya. Selain itu dia sering juga menjadi bintang  tamu mendampingi dalang dalang kondang   seperti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono, Ki Purbo Asmoro, Suwondo dan sebagainya.

 

Penampilan Mega Laras selalu mengundang gelak tawa penonton saat dialog dengan dalang atau pelawak yang sepanggung karena sebenarnya dia punya sifat pemalu dan pendiam. Lantas apa alasan dia menyukai dunia seni suara khususnya sinden atau waranggono ?, Mega hanya menjawab singkat karena dia ingin melestarikan budaya bangsa.

 

Sebagai seniwati cilik Mega tidak lepas dari kawalan Sri Andayani ibunya, yang selalu mengikuti kemanapun ketika ada undangan tampil manggung. Ibunya sekaligus berperan menjadi menejer, menggantikan peran Samsuri ayahnya yang meninggal 2 tahun lalu. Menurut bu Sri, bakat Mega menyukai gending-gending jawa mulai tampak waktu dia berusia 10 tahun. Saat itu dia mencoba tampil ketika ada pagelaran wayang kulit Ki dalang Siswantoro dari Mojoayu Plemahan yang tampil di desa Doko.

 

Sri Andayani merasa heran sekaligus bangga,  kemampuan anaknya bisa memukau penonton wayang kulit. Selain mampu menirukan penampilan sinden senior dengan tingkat kesulilan yang tinggi, Mega juga terkesan lucu, saat berdialog dengan Ki dalang. Padahal menurut ibunya, dia tidak pernah belajar khusus tentang sinden. Mungkin ketertarikan dunia seni jawa ini, karena keturunan dari kakeknya yang juga dalang wayang kulit.

 

Sebagai orang tua Bu Sri selalu mendampingi Mega untuk menghadiri undangan tampil nyinden. Iapun harus menitipkan 2 anaknya yang lain yang masih balita pada saudaranya, saat mendapat job di luar kota. Bu Sri juga mengaku trenyuh, saat mendengarkan suara anaknya ketika tampil dipangung.

 

Sebagai sinden cilik, Mega Laras sangat membantu perekonomian keluarga, apalagi setelah ayahnya wafat 2 tahun lalu, honor hasil manggungnya bisa untuk memenuhi kebutuhan sekolah, bahkan untuk beli susu 2 adiknya yang kembar. Meski demikian Sri Andayani tidak pernah memasang tarif untuk menghadirkan Mega anaknya untuk manggung.

 

Sebagai seniwati Jawa, adakalanya dia sepi tawaran manggung. Tapi pada saat tertentu, justru kwalahan menerima tawaran. Bahkan pada bulan Muharam atau suro kemarin, sebulan penuh Mega harus melek-an tiap malam, karena memenuhi undangan manggung. Meski sering pulang dini hari, aktifitas sekolahnya tidak sampai terganggu.

 

Bakat Mega Laras yang sangat jarang dimiliki anak seusianya ini akan terus dipupuk. Bahkan untuk mengasah memampuannya menjadi sinden atau waranggono, rencananya Mega Laras setelah lulus SMP nanti akan meneruskan Sekolah Seni Indonesia di Solo. Lebih jauh Mega Laras bercita-cita, kelak  ingin menjadi dosen kesenian khusunya seni Jawa.(Diki Pramana)