Hadapi Ular Berbisa, Advisor WHO: First Aid dan Penanganan Harus Tepat

| More
02 December 2021
ular_luwuk1.jpg
Radio ANDIKA - Meninggalnya seorang polisi di Blitar lantaran digigit ular berbisa jenis Luwuk pada 28 November 2021 lalu membuat masyarakat berhati-hati dan waspada. Apa sebaiknya yang harus dilakukan saat berhadapan dengan ular berbisa agar tidak membahayakan diri sendiri? Menanggapi hal itu, Dr dr TRI MAHARANI, Sp. EM., Advisor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk gigitan ular dan peneliti di Kementerian Kesehatan, angkat bicara. 
 
dr MAHA, panggilan akrabnya, saat On Air di Radio ANDIKA mengatakan ular Luwuk adalah jenis ular viper yang meski sudah dipotong masih punya reflek dan kontraksi dari otot-ototnya. Dia mengimbau agar tidak panik jika tergigit. Karena jika seseorang panik, akan menyebabkan pergerakan yang memicu pompa dari kelenjar getah bening yang membuatnya menyebar ke seluruh tubuh dan merusak organ.
 
Jika kita bertemu ular, karena ada reflek dan kontraksi otot tersebut, kata dr MAHA, tidak dianjurkan membunuh ular atau memotong ular. Lebih baik kita tenang dan tidak bergerak saja sampai si ular lewat. Karena menurutnya, ular hanya mengigit kalau merasa terancam.
 
Selain tidak panik, sesuai dengan guideline atau panduan yang diberikan World Health Organization (WHO), jika tergigit ular maka cara penanganan yang tepat yaitu dengan imobilisasi. Artinya, area tubuh yang terkena gigitan ular tidak boleh digerakkan. Karena jika banyak bergerak, maka hal itu membuat bisa ular menyebar dengan cepat ke organ-organ tubuh. Imobilisasi cara penanganannya dilakukan selayaknya penanganan patah tulang.
 
Tujuan dari imobilisasi adalah untuk menghindari terjadinya fase sistemik atau racun yang sudah menjalar ke seluruh tubuh.  Jika area yang digigit ular adalah tangan, maka tangan itu harus diluruskan diganjal dengan kayu sebelum kemudian diperban. Saat bagian yang digigit tidak bergerak, maka otot juga tidak akan bergerak.
 
Ketika racun sudah menjalar dan mencapai fase sistemik, maka satu-satunya cara adalah pemberian serum antivenom. Namun, dr MAHA mengatakan, antivenom untuk ular hijau tidak ada di Indonesia. Menurutnya, anti venom yang dimiliki Indonesia masih terbatas untuk lima jenis ular, di antaranya ular kobra, ular belang  dan ular tanah.
 
Dokter TRI MAHARANI mengimbau pada warga untuk melakukan pertolongan pertama (first aid) dan penanganan yang tepat jika tergigit ular. Korban gigitan ular berbisa membutuhkan penanganan serta pengobatan medis yang serius dan harus segera dilarikan ke pelayanan kesehatan terdekat. Sebab, jika salah dalam memberikan penanganan bisa membahayakan nyawa seseorang. (arg/adr)