Pengabdian Atau Kepentingan

| More
Tanggal : 12-04-2010

karikatur guruUsai Shalat Jumat di masjid An-Nur sebelah rumah pak kades saya bersama Mas Daman dan Cak Buari menyempatkan diri untuk leyeh leyeh di serambi masjid, santai dalam suasana ceria, kecuali Kang Mamad. Saya melihat petani gurem itu bersandar di tembok dan wajahnya tidak terlihat benderang seperti biasanya.

Karena tepat di samping Kang Mamad saya langsung menyapanya, “Ada apa to kang, kok murung, sedang ada masalah ya, atau lagi bertengkar dengan istri?”, Kang Mamad tidak langsung menjawab, sesaat kemudian dia menghela nafas panjang lalu berkata,“Anak saya si Bayu, dia lagi bingung sekaligus mangkel dan ruang perasaannya dipenuhi kekecewan hingga dia sering merenung dan menyendiri, dia putus asa sekaligus tidak terima karena hingga kini belum dapat sekolah”.

“Lho”, kan kemarin sudah diterima di SMK Negeri II!” kejar Cak Buari.

“Itu masalahnya, sehari sebelum penutupan pendaftaran siswa, anak saya mendadak diberitahu jika dia batal diterima dan harus pindah ke sekolah lain, padahal waktu pendaftaran di sekolah lain sudah habis hanya tinggal sekolah swasta”.

“Kok janggal kang, kan si Bayu anaknya pandai dan nilainya cukup bagus!”, mendapat pertanyaan Mas Daman Kang Mamad kembali menjelaskan, “Setelah saya telisik, ternyata posisi Bayu digeser anak orang kaya dari luar kota yang meski nilainya jeblok tapi karena orang tuanya mau membantu biaya pendirian laboratorium praktikum akhirnya diterima, kemungkinan besar kepala sekolahnya juga dapat jatah”.

“Wah wah!”, praktek seperti ini bisa diartikan melarang orang miskin sekolah, ini namanya kapitalisme pendidikan”, protes Cak Buari.

 

Tidak ingin ketinggalan sayapun ikut komentar, “Betul, betul, betul, saya juga sependapat, seharusnya kepala sekolah tetap menolak orang kaya itu yang hanya mengandalkan rupiah”.  Kang Mamad juga menambahi, “Saya sebenarnya tidak terima, tapi apa mau dikata saya hanya petani biasa tidak kuasa untuk menuntut keadilan”.

“Sebentar teman teman, kalau saya boleh ikut bicara menurutku dalam menyikapi masalah ini kita harus arif dan bijaksana”, Mas Daman yang sejak tadi menahan diri ikut mengutarakan pendapat, “Kita harus berpikir secara holistik, integral dan komprehensif ”,

“Maksudmu bagaimana to mas, saya nggak paham?”, potong Kang Mamad. “Begini!”, pola pikir dalam memandang masalah ini jangan parsial dan sempit sehingga kita saling menyalahkan, seharusnya melalui banyak sudut pandang yang berpijak pada akar persoalan, saya tidak menyalahkan kepala sekolah karena mungkin baginya lulusan berkualitas akan sulit dihasilkan jika sarana penunjang kegiatan belajar mengajar serba terbatas, akhirnya dia memutuskan menerima anak orang kaya itu apalagi juga untuk kepentingan siswa lainnya”.

 

Kami sejenak terdiam mendengar kata kata Mas Daman, guru SD itu punya pemikiran yang lebih mendalam dan mendasar.

“Tapi kepala sekolah kan juga dapat, ya mungkin uang pelicin”, ujar Cak Buari.

 “Ya, kita jangan buruk sangka dulu, tapi jika memang demikian kepala sekolah tidak sepenuhnya salah karena penghargaan berupa materi dari pemerintah bagi para pahlawan tanpa tanda jasa selama ini dirasa belum seimbang dengan perjuangan mereka”.

“Berarti orang kaya itu yang salah mas”, Kang Mamad mencoba menyimpulkan.

“Si orang kaya juga tidak bisa kita vonis keliru, dia membuat penawaran itu karena melihat kondisi obyektif dimana lembaga pendidikan kita jauh dari ideal, terutama secara fisik, sehingga membuka celah bagi munculnya tawaran yang tidak seharusnya”.

 

Mendengar kata kata Mas Daman saya melihat Cak Buari mengerutkan dahi, sedangkan Kang Mamad mengangguk angguk.

“Masalah pendidikan kita ini sangat kompleks, kalian sudah tahu belum, di kota kota besar sudah mulai bermunculan pendidikan berbasis bisnis dimana lembaga sekolah menyediakan pengajar yang kompeten, sarana lengkap dan canggih serta tawaran lulusan berkualitas unggul, lembaga juga mampu membuka jurusan keilmuan yang relevan dengan persaingan zaman tetapi mematok biaya yang luar biasa besarnya, bahkan pendaftaran awal saja nilainya puluhan juta, hanya orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya ke situ, mereka yang memiliki kemampuan finansial rendah pasti tidak akan mampu”.

 

Usai merubah posisi tempat duduk Mas Daman meneruskan kata katanya, “Berawal dari filosofi bisnis ini, tak heran jika para pengajar di lembaga itu bersifat transaksional pragmatis, artinya ilmu yang mereka keluarkan diukur dengan apa yang mereka dapatkan”.

Cak Buari yang sejak tadi terlihat bersemangat langsung menyela, “Saya tidak setuju Mas Daman, bagi saya kepentingan bisnis sudah menyimpang dari prinsip dan hakikat tujuan pendidikan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dengan dasar keikhlasan, selain itu para pengajar tidak sepantasnya punya pamrih karena dalam proses pendidikan lebih ditekankan internalisasi nilai nilai luhur dan kebesaran jiwa”.

 

“Monggo saja kalau Cak Buari berpendapat begitu!”, jawab Mas Daman, “Memang pendidikan berbasis bisnis secara etika dan nilai kepatutan masih dalam perdebatan, tetapi bagi saya punya sisi positif karena bisa menghasilkan produk yang bermutu meskipun di sisi lain jelas membuat kesenjangan pendidikan antara orang kaya dan orang miskin semakin mencolok, dan inilah PR pemerintah kita, bagaimana pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah bisa mencukupi kebutuhan pendidikan maupun tenaga pendidik sebagaimana yang diamanatkan dalam undang undang  sehingga lembaga sekolah negeri tidak kalah dengan lembaga sekolah swasta yang lebih berorientasi profit”.

 

“Baiklah, kembali ke masalah Kang Mamad, nanti saya akan temui kepala dinas pendidikan dan mengupayakan agar Bayu bisa sekolah di lembaga negeri, semoga masih ada kuota yang kosong karena bisa jadi ada siswa yang mengundurkan diri atau pindah”.

“Terimakasih sebelumnya lo Mas Daman”, ujar Kang Mamad, sorot mata petani itu yang sebelumnya meredup kembali menyala.

“Maaf Mas Daman, kalau boleh tanya, bagaimana dengan sampean sendiri yang sudah mengajar belasan tahun?”, tanyaku padanya.

“InsyaAllah, sebagai guru saya akan berusaha menjaga semangat pengabdian tetap berada dalam bingkai ketulusan”.

 

Kata kata terakhir Mas Daman menjadi penutup obrolan kami, saya sendiri merasa bangga mempunyai sahabat seperti Mas Daman, orangnya sederhana dan tanpa pamrih, semoga ilmu yang diajarkannya berbuah pahala yang terus mengalir tiada putusnya seperti yang dijanjikan dalam agama.(Hadi Kusuma)

Radio Online

Live Streaming :
Radio 1
Radio 2
Radio 3

Acara Hari Ini

05:00 Mutiara Subuh
06:00 Kediri Bersemi
09:00 Citra Andika fbnew
11:00 Kampoeng Loedroek

13:00 Colak Colek
15:00 Gayeng Marem fbnew
17:00
Kediri Hari ini

18:00 Ekspresi Musik Indonsiafbnew
22:00 Senandung Rindu fbnew

24:00 Warung Lesehan

sms andika fm (real size)

Agenda

27-01-2012
20-01-2012
20-01-2012
10-01-2012