
Saya sepakat dengan penilaian Dr Amin Rais salah satu tokoh intelektual terkemuka di Indonesia. Menurut beliau nasionalisme masyarakat kita mulai terkikis karena sudah tidak percaya diri sebab lebih tertarik menggunakan bahasa dan kosakata asing daripada bahasa sendiri.
Di media cetak maupun elektronik sering kita mendapati penggunaan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Misalnya penggunaan kata overload, mengapa tidak memakai kata melebihi daya tampung. Satu lagi contoh, penggunaan kata download mengapa tidak digunakan kata unduh. Masih banyak lagi kosakata asing yang kerap dipakai meski dalam Bahasa Indonesia terdapat kata yang sepadan. Bukan hanya dalam bidang informasi dan teknologi, dalam pergaulan keseharian masyarakat terutama anak muda kita, kosakata asing sudah biasa digunakan.
Saya mempunyai pengalaman pribadi terkait penggunaan bahasa yang menurut saya kurang atau lebih tepatnya tidak cocok ditrapkan dalam komunikasi keseharian. Seorang perempuan cantik teman baik saya dengan sedikit berkelakar menyapa dengan panggilan Babe yang berarti sayang. Bukan hanya sekali, seingat saya tiga kali atau mungkin lebih.
Karena janggal, tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya, kuminta dia menyapa dengan menyebut langsung nama saya atau memakai sapaan yang lazim dia gunakan. Kecuali pada teman lain yang barangkali bisa menerima.
Bukan tanpa sebab kuminta demikian. Paling tidak ada dua alasan. Pertama, sapaan Babe jelas diadopsi dari budaya barat yang bagi saya kurang pas diterapkan dalam pergaualan sehari hari. Pasalnya sebagai warga Indonesia terutama orang Jawa kita mempunyai kata panggilan dan dialek tersendiri yang menurut saya lebih mencerminkan keakraban dan kesantunan, misalnya, Mas, Bang atau Cak. Jadi, mengapa justru bangga menggunakan bahasa asing meski tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian kita. Mengapa harus minder mengunakan bahasa sendiri.
Ini juga menjadi sebuah ironi dimana orang tua mayoritas tak peduli dan cuek meski anaknya berkomunikasi memakai bahasa yang sedikitpun tidak dimengerti oleh mereka. Tidak heran beberapa pakar sosiologi mengatakan saat ini kita dilanda krisis identitas. Karena diakui atau tidak kalangan anak muda menganggap penggunaan bahasa asing lebih bergengsi.
Alasan ke dua, merujuk pada budaya barat kata Babe berkonotasi negatif karena di sana digunakan untuk panggilan perempuan dewasa “nakal”. Selain itu juga biasa digunakan untuk sapaan bagi perempuan yang belum dikenal dengan tujuan menggoda.
Sampai di sini cukup jelas dan gamblang kekeliruan penggunaan kata Babe jika dialamatkan pada saya.
Tetapi tidak secara otomatis teman perempuan yang menyapaku dengan Babe itu salah, karena saya yakin dia hanya ikut ikutan tanpa mengetahui esensi dan makna panggilan itu. Secara umum karakteristik masyarakat kita (anak muda) cenderung sedemikian lahap menyerap budaya asing tanpa lebih dulu memfilter apakah sesuai dengan kepribadian dan adat ketimuran.
Banyak budaya negatif dari dunia barat yang begitu kuat melekat dalam pergaulan remaja sehingga dijadikan tradisi yang seakan akan wajib dilakoni. Salah satu contoh adalah perayaan Valentin’s Day setiap 14 Pebruari. Hari spesial yang dinamakan hari kasih sayang itu justru kerap menjadi momentum penodaan kesucian. Berkedok cinta dan kasih sayang seorang lelaki dengan leluasa bisa mengumbar nafsu primitif yang tak terkendali. Dengan ungkapan cinta dan kasih sayang yang hina itu pihak perempuan tidak memperoleh apa - apa, kecuali sebuah hadiah berupa penyesalan dan masa depan yang suram.
Bukannya sok alim atau ingin dihargai. Tetapi saya lebih memandang dari sisi kepantasan dan kepatutan, meski penilaian perilaku masyarakat itu sendiri juga tergantung relativitas budaya. Saya juga tidak keberatan dikatakan kurang gaul. Karena bagi saya istilah gaul itu sendiri multi tafsir dan tergantung cara pandang dan dari sudut mana kita melihatnya. Meski belum bisa sepenuhnya, semoga saya bisa menghindarkan diri dari perkataan yang sia sia dan tiada guna. (Hadi Kusuma)
