
Orang Jawa itu penuh kearifan dan kesantunan. Memiliki karakter dan psikologi yang berliku sehingga gampang merasa sungkan atau ewuh pakewuh. Kalau ngomong sopan dan halus, yang dipakai selalu alur piramida tegak, menyampaikan kenyataan dan alasan, baru maksud serta tujuan. Dalam situasi tertentu perilakunya seringkali dipaksakan agar selaras dengan tuntutan sosial.
Kang Juki sahabat karibku pernah datang meminta dengan sangat dipinjami uang 250 ribu, katanya untuk mengembalikan tabungan Pak Haji Cokro. Lho, saya bingung, wong dia hanya pedagang keliling bukan pengurus koperasi atau pegawai bank. Tetapi ternyata yang dimaksud tabungan Pak Haji Cokro adalah amplop berisi uang 300 ribu yang diberikan waktu Kang Juki menikahkan Tias anak pertamanya. Sekarang Pak Haji Cokro ganti punya gawe mantu anak satu satunya.
Saya lantas bilang, “Mbok ya ndak usah ngoyo, kalau hanya punya uang 50 ribu, ya itu saja diberikan”, lalu Kang Juki menjawab “Apa mukaku ini mau ditaruh di dengkul”.
Inilah satu potret kearifan watak sosial masyarakat kita. Entah karena kebaikan atau ketakutan, yang pasti Kang Juki tidak mau melanggar undang undang yang tak tertulis yang berlaku di masyarakat. Baginya meski tidak ada transaksi hitam di atas putih tetapi konsekwensi jika melanggar sangat berat untuk diterima.
Sebenarnya sikap Kang Juki yang memaksakan diri mengembalikan penuh tabungan Pak Haji Cokro kontraproduktif dengan tujuan menghadiri acara pernikahan. Kedatangan Kang Juki diharapkan untuk memberikan kesaksian dan doa restu pada kedua mempelai yang telah mengikat tali suci sebagai tanda awal menapak mahligai rumah tangga.
Sedangkan amplop hanya sebagai simbol dan ubo rampe atau pelengkap. Tanpa amplop bukan berarti kesaksian dan doa restu tidak bisa diberikan. Substansinya bukan pada apa atau berapa yang ada dalam amplop tetapi kedalaman nilai yang menyertainya.
Tetapi jika sekarang yang berlaku di masyarakat adalah amplop lebih berharga daripada kesaksian dan doa restu, maka bisa ditarik kesimpulan telah terjadi sebuah pergeseran nilai. Hal hal yang bersifat esensial dan maknawi harus tersingkir oleh sesuatu yang bersifat simbolistik dan perlambang.
Pergeseran nilai yang saya maksud adalah manifestasi dari pola pikir yang pragmatis. Punya gawe mantu berarti sama dengan punya proyek yang ukurannya tentu untung atau rugi. Orang tua dapuk (menjadi) pemimpin proyek menyiapkan modal sedangkan anak berperan sebagai pelaksana, menyebarkan undangan sebanyak banyaknya termasuk pada kenalan baru yang hanya sekali bertemu. Para kerabat diangkat menjadi mandor yang bertugas mengatur tetangga yang untuk sementara menjadi kuli sukarela.
Bila dianggap sebuah proyek berarti sama dengan perusahaan. Yang namanya perusahaan tidak ada korelasinya dengan norma, etika, nilai, baik buruk, pantas atau saru. Perusahaan berjalan dalam skema laku atau tidak laku, surplus atau devisit, rating tinggi atau rendah. Jika yang bisa dijual dan menghasilkan keuntungan besar adalah resepsi pernikahan kenapa tidak.
Prinsip ekonomi menjadi acuan pokok yang berarti bagaimana mengeluarkan biaya sekecil kecilnya untuk mendapat pemasukan yang sebesar besarnya. Suguhan atau hidangan dihapus dari daftar pengeluaran. Sebagai wujud berpikir ekonomis sudah jarang kita jumpai piring berjajar di atas meja berisi jenang, wajik, lemper, roti kacang, madumongso, krupuk dan jajanan lainnya. Para tamu undangan begitu datang langsung digiring antri mencicipi menu prasmanan dengan iringan musik electone yang tarifnya dihitung per jam.
Sedemikian kuatnya pergeseran nilai sehingga si empunya gawe bukan hanya dituntut berpikir ekonomis tapi juga praktis. Sampai ada yang terang terangan memberi catatan dalam kertas undangan meski dalam gaya penghalusan atau eufemisme. contoh kata “Mohon tidak memberi kenang kenangan berupa barang”. Kalau ditegaskan sebenarnya mau ngomong “Sumbangannya uang saja”. Bayangkan, jika sang pengantin mendapat kado puluhan jam dinding, mungkin hanya akan ditumpuk di gudang untuk dikembalikan sebagai kado pula, sangat tidak praktis.
Sekarang juga sudah jarang kita temui, setelah menghadiri pernikahan tamu undangan mendapat bingkisan beraneka jajanan yang bisa dibagikan pada 5 anaknya. Kebanyakan hanya satu warna dan satu rasa berupa kue kering atau makanan ringan yang dibungkus dalam sebuah mangkuk mungil. Kalaupun ada tambahan biasanya hanya berupa souvenir yang tidak lebih dari sebuah tanda pengingat.
Pergeseran nilai yang sudah begitu kental dan kuat apakah merupakan keniscayaan dari semangat jiwa materialistis yang sudah mulai mengakar di masyarakat ?. Apakah perlu kita lestarikan atau kita ubah meski secara perlahan ?. Tolong bantu saya menjawabnya !. (Hadi Kusuma)
