Berita- Info ANDIKA

17 February 2014
Paska Erupsi Kelud, KBM di Kediri Belum Normal
Radio ANDIKA – Kediri – Jatim - Meski sudah diliburkan selama dua hari, Jumat dan Sabtu pasca Gunung Kelud mengalami erupsi, hingga Senin (17/2/2014), kegiatan belajar mengajar (KBM) di sejumlah lembaga sekolah di Kota Kediri juga belum bisa berlangsung. Penyebabnya, mayoritas sekolah masih dipenuhi dengan pasir dan juga abu vulkanik.
 
Kabag Humas Pemkot Kediri Jawadi mengatakan, para siswa sudah mulai masuk setelah libur dua hari, namun kebanyakan para pelajar masih melakukan kerja bakti membersihkan tumpukan pasir. "Banyakan sekolah yang halamannya masih terpenuhi pasir dan debu vulkanik. Oleh karena itu, para siswa melakukan kerja bakti untuk membersihkan," ujar Jawadi.
 
Sesuai pantauan, sejumlah lembaga sekolah masih tampak para pelajarnya melakukan kerja bakti membersihkan pasir dan abu vulkanik. Bahkan, meski dilakukan pembersihan selama tiga hari. Beberapa jalan protokol di Kota Kediri masih dipenuhi pasir dan abu, meski tidak setebal Jumat lalu.(beritajatim.com)
17 February 2014
Tunggu SBY, Balita Ambruk dengan Bibir Membiru
Radio ANDIKA – Kediri – Jatim - Seorang balita berusia 3 tahun bernama Veronica, tiba-tiba saja ambruk saat menunggu kedatangan Presiden SBY di posko pengungsi Balai Pamitran GKJW Desa Segaran Kecamatan Wates Kabupaten Kediri, Senin (17/2/2014). Selanjutnya, bocah tersebut dilarikan ke RS Bhayangkara guna mendapatkan perawatan.
 
Balai Pamitra berisi pengungsi sekitar seribu orang. Sejak pagi mereka sudah duduk berjajar untuk menunggu kedatangan orang nomor satu di Indonesia. Hanya saja, hingga pukul 13.00 WIB, presiden belum juga menampakkan batang hidungnya. Praktis suasana panas dan gerah sangat terasa di ruangan dekat GKJW itu.
 
Nah, di tengah hiruk pikuk itulah Veronika kemudian ambruk ke pelukan sang ibu. Ibunya pun langsung bingung. Apalagi bibir bocah tersebut terlihat membiru. Takut terjadi sesuatu, Veronica kemudian dibawa ke posko kesehatan. Oleh petugas posko, balita itu akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara.
 
Dyah Eruwati (54), petugas posko kesehatan membenarkan kejadian itu. Hasil pemeriksaan sementara, warga Desa Sempu Kecamatan Ngancar, Kabupaten ini mengalami penyakit jantung. "Dari kecil dia memang mempunyai riwayat penyakit jantung," kata Dyah yang juga Humas RS Baptis Kediri, ini.
 
Plt Kades Sempu Wijiyanto juga membenarkan bawa Veronica merupakan warganya. Balita dan ibunya itu sudah menghuni pengungsian Balai Pamitra sejak Kami malam, saat Gunung Kelud mengalami erupsi. "Tadi Veronica sakit dan dilarikan ke rumah sakit," pungkas Wijiyanto.(beritajatim.com)
17 February 2014
Taksir Kerugian Akibat Erupsi Kelud Rp 1,2 Triliun
Pemprov Jatim menaksir jumlah kerugian sementara akibat erupsi Gunung Kelud hingga saat ini telah mencapai Rp 1,2 triliun. Angka itu dipastikan terus bertambah, karena petugas pendataan belum bisa mendata di wilayah terlarang (radius 10 km dari kawah Kelud).

"Ini baru pendataan awal, kerugian bisa jauh lebih besar karena kita belum bisa masuk ke wilayah terlarang," kata Ketua Posko Induk Penanggulangan Bencana Gunung Kelud Akhmad Sukardi kepada wartawan di gedung negara Grahadi Surabaya, Senin (17/2/2014).

Kerugian terbesar pada sektor per komoditi pertanian, seperti padi, jagung, kedelai, cabe, tomat, kentang, nanas, dan bunga mawar mencapai Rp 1,1 triliun. Sedangkan, kerugian untuk perkebunan, seperti kopi, kakao, cengkeh dan tebu yang ada di tiga wilayah Kediri, Blitar dan Malang mencapai Rp 84 miliar. Selain itu, untuk kerugian sektor peternakan yang meliputi sapi perah, sapi ternak dan peternakan lainnya sebesar Rp 13 miliar.

Sekdaprov Jatim ini menambahkan, kerugian yang tak kalah besar adalah di sektor pendidikan, meliputi kerusakan bangunan sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) mencapai Rp 2,7 miliar.

Menurut dia, kerugian tersebut baru pada penghitungan sementara yang sudah dilaporkan ke Presiden Susilo Bambang Yudhonono (SBY) pada hari ini oleh Gubernur Jatim Soekarwo di Kediri. Namun bisa jadi nilai kerugian itu terus bertambah.

Kesulitan yang dihadapi dalam pendataan karena petugas data belum bisa menjangkau di wilayah yang masih dalam kategori bahaya radius 10 km dari kawah Kelud.

"Kalau nantinya sudah dinyatakan aman, baru petugas masuk ke wilayah yang selama ini belum terdata. Dari situ baru diketahui jumlah kerugiannya secara total," ujarnya.

Terhadap kerugian tersebut, Pemprov Jatim juga telah menyusun estimasi anggaran yang dibutuhkan dalam tanggap darurat selama 10 hari ke depan. Pemprov Jatim berharap tidak hanya dari APBD Jatim saja untuk mengatasi kerugian ini, namun juga ada dukungan anggaran dari Pemerintah Pusat.

Meskipun nantinya Pemerintah Pusat memberikan bantuan, namun dia menegaskan, bencana erupsi Kelud sudah ditetapkan Gubernur Soekarwo sebagai bencana provinsi dan bukan bencana nasional.

"Kami masih mampu menangani bencana ini termasuk penanggulangan dan pemberian bantuan korban erupsi yang tersebar di beberapa wilayah Kediri, Jombang, Batu, Malang, dan Blitar," pungkasnya.(Beritajatim.com)
17 February 2014
Warga Kediri Masih Bersih-bersih Debu Kelud
Radio ANDIKA – Kediri – Jatim - Hari keempat pasca-erupsi Gunung Kelud, aktivitas warga di Kota Kediri kembali pulih. Meski demikian, sebagian warga masih terlihat membersihkan pasir yang menutupi rumah ataupun bangunan yang mereka tempati.
 
Tumpukan pasir juga memenuhi Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri. Satuan Polisi Pamong Praja dikerahkan untuk membersihkan tumpukan pasir. "Ini sudah lumayan, kemarin tebalnya 5-10 sentimeter," kata seorang petugas Satpol PP, April Mahardjo.
 
Menurut April, bersih-bersih pasir ini sudah mulai dilakukan sejak Ahad, 16 Februari 2014. Dibantu Pasukan Yonif 521 Dadaha Yodha dan para pelajar, pasir abu vulkanik yang memadati jalanan Kabupaten Kediri dibersihkan. Ada yang mengeruk pasir, ada pula yang menyiramnya dengan air. "Sudah tidak terhitung truk yang mengangkut," ujar petugas yang lain.
 
Pantauan Tempo, pasir debu vulkanik dampak dari erupsi Gunung Kelud masih memenuhi jalan dan bangunan di Kediri. Berkarung-karung pasir terus dikumpulkan dan dibersihkan dari atap maupun halaman rumah mereka.
 
Kendati begitu, aktivitas warga mulai pulih. Pertokoan dan penjual makanan sudah beroperasi, walaupun debu masih bertebaran setiap kali kendaraan melintas.
 
Salah seorang warga, Muji, mengatakan aktivitas di Kediri memang sempat terhenti setelah erupsi 13 Februari 2014 lalu. "Sekarang sudah normal, meski masih sibuk bersih-bersih."(tempo)
16 February 2014
Dampak Kelud, Warga Tak Berani Beri Makan Ternak
Radio ANDIKA - Kediri  - Jatim - Masifnya guyuran hujan abu Gunung Kelud turut membuat para peternak di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak berani memberi pakan ternaknya dengan menu normal.
 
"Kami takut kalau harus beri makan dengan menu normal, karena semua bahan tercampur pasir, bisa bisa malah bikin penyakit dan jadi harga anjlok nanti," kata juragan ternak Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Karnoto, kepada Tempo, Ahad, 16 Februari 2014. (Baca juga: Hujan Mulai Larutkan Abu Kelud)
 
Pemilik 25 ekor sapi itu menuturkan, menu normal yang biasa diberikan pada sapi-sapinya steiap hari adalah kalanjana, sejenis rumput hijau-hijauan. Kebutuhan perhari kalanjana untuk seekor sapi bisa mencapai 40 kilogram.
 
Menurut Karnoto, untuk mendatangkan pakan dari luar Gunung Kidul pun sulit. Sebab, hujan abu ini merata sampai Jawa Tengah.
 
Sebagai gantinya, Karnoto pun selama tiga hari terakhir ini hanya memberi pakan ternaknya dengan bahan-bahan kering, seperti damen atau jerami kering. "Damen ini kami modifikasi sendiri, agar agak basah, dengan dicampur konsentrat," kata dia.
 
Peternak sendiri berharap pemerintah mau turun tangan mengingat peternak di Gunung Kidul jumlahnya ribuan dan semua kesulitan pakan saat ini. Sebab bencana abu Kelud ini turut membuat sejumlah permintaan daging anjlok tajam.
 
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Gunung Kidul Krisna Berlian menuturkan hujan abu Kelud ini melanda secara merata seluruh peternak di wilayah tersebut. Sedikitnya 140 ribu ekor sapi baik sapi putih atau sapi merah turut terkena dampak dalam mendapatkan pakan.
 
"Kami meminta peternak tidak panik, tapi memperhatikan pakannya dengan seksama agar tidak tercampur material vulkanik secara berlebihan," kata dia.
 
Krisna sendiri belum mengetahui persis apa dampak jangka panjang ternak yang mengkonsumsi pakan tercampur abu vulkanik. Kandungan Abu vulkanik yang sebagain besar merupakan unsur logam itu dinilai gampang memicu ternak sakit jika dikonsumsi berlebihan.
 
Gunung Kelud berada di perbatasan tiga kota, yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Pada Kamis malam lalu, Kelud meletus, dan abunya terbang hingga mencapai beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Selama dua hari, seluruh penerbangan dari dan ke kota-kota di Pulau Jawa lumpuh. (Tempo.co.id)
16 February 2014
Ternak Warga Korban Letusan Kelud Terancam Hilang
Radio ANDIKA - Kediri  - Jatim - Pencurian ternak dan barang berharga dilaporkan menimpa sejumlah rumah kosong di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang ditinggalkan pemiliknya karena harus mengungsi akibat letusan Gunung Kelud. Aksi pencurian itu dilaporkan menimpa warga di Desa Siman Kecamatan Kepung. Harta hilang berupa ternak sapi dan sepeda motor.
 
"Warga mengatakan, ada sapi yang hilang saat ditinggal mengungsi," kata Wisnu, seorang relawan asal Surabaya setelah turun dari pos Siman, Sabtu (15/2/2014).
 
Wakil Kepala Polres Kediri, Komisaris Alfian Nurizal, mengatakan, pihaknya belum mendapat laporan soal kasus kriminalitas itu. " Kami belum dapat laporan. Namun akan kami tindak lanjuti informasi itu," kata Alfian.
 
Gunung Kelud meletus Kamis lalu. Akibat letusan itu, 66.139 warga di empat kecamatan terdampak bencana terpaksa harus mengungsi.
( Antara jatim.com)
16 February 2014
KPU Kabupaten Kediri Data Warga Pascaerupsi Kelud
Radio ANDIKA - Kediri  - Jatim - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, akan melakukan pendataan ulang warga untuk keperluan Pemilu Legislatif 2014 pascaerupsi Gunung Kelud (1731 mdpl) di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, kabupaten setempat.
 
"Kami akan konfirmasi data dulu ke satlak penanggulangan bencana berapa pastinya," kata Ketua KPU Kabupaten Kediri Agus Edhi Winarto di Kediri, Sabtu.
 
Ia mengatakan, berbagai persiapan sudah dilakukan jika memang status Gunung Kelud masih Awas, termasuk akan mendirikan tempat pemungutan suara (TPS) di lokasi pengungsian.
 
Saat ini, KPU masih melakukan persiapan untuk pendataan ulang warga. Pendataan akan dilakukan akhir Februari 2014 ini.
 
Agus juga menyebut masih akan konsultasi ke KPU pusat terkait dengan rencana akan mendirikan TPS di lokasi pengungsian.
 
Namun, ia berharap status Gunung Kelud tidak berkepanjangan Awas. Pelaksanaan pemilu masih berlangsung dua bulan lagi, tepatnya pada 9 April 2014, sehingga dengan rentang waktu tersebut, statusnya sudah turun dan warga pun bisa menyelenggarakan pemilihan seperti awalnya, di daerah mereka tinggal.
 
"Kami berharapnya status tidak sampai berkepanjangan, sehingga nantinya pemilu bisa berjalan normal. Tapi, kami harus tetap mengantisipasi," jelasnya.
 
Tentang logistik, ia mengatakan sejumlah surat suara terutama untuk DPR RI sudah datang di KPU, tinta, serta sejumlah logistik lainnya, namun untuk surat suara bagi DPR Jatim serta DPRD sampai saat ini belum datang.
 
Gunung Kelud mengalami erupsi, setelah sebelumnya terjadi gempa tremor sampai enam jam. Gunung itu dinyatakan erupsi pada pukul 22.56 WIB, setelah statusnya naik dari semula waspada menjadi awas, hingga mengeluarkan material vulkanik. ( Antara jatim.com)
16 February 2014
Ratusan Santri Lirboyo Bersihkan Abu Kelud
Radio ANDIKA- Kediri- Jatim Ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri dikerahkan untuk membersihkan jalan dari tumpukan pasir Gunung Kelud.  Sejak Sabtu malam, 15 Februari 2014, hingga dini hari tadi santri Lirboyo getol membersihkan jalan raya.

Menggunakan cangkul dan plat mika, mereka mengeruk pasir dari badan jalan mulai pukul 23.00 WIB malam tadi. "Ini perintah pengurus pondok," kata Soleh, santri yang membersihkan ruas Jalan Dr Saharjo, Ahad dini hari tadi. (Baca juga: Relawan Kelud Terobos Zona Terlarang untuk Berfoto)

Dikawal petugas Kepolisian Sektor Mojoroto, para santri menggiring pasir dari tengah badan jalan menuju tepian. Aktivitas tersebut dilakukan mulai tengah malam agar tak mengganggu arus kendaraan.

Menurut pantauan Tempo, aksi para santri ini tak hanya dilakukan di jalan raya lingkungan pondok. Mereka menyebar dalam beberapa kelompok yang masing-masing terdiri atas 30 - 50 santri. "Kita utamakan jalan-jalan besar agar tak membahayakan orang," kata Soleh.

Aksi serupa dilakukan anggota Partai Keadilan Sejahtera Kota Kediri, yang mulai pagi tadi membersihkan pasir di ruas jalan bundaran Sekartaji. Aksi ini melibatkan ibu-ibu yang dengan sigap ikut mengeruk pasir dari badan jalan.

Untuk memulihkan aktivitas perdagangan di Jalan Doho, yang merupakan pusat pertokoan dan perbelanjaan Kota Kediri, Dinas Kebersihan Kota Kediri mengerahkan personelnya. Menggunakan peralatan berat, mereka mengeruk pasir yang menutupi jalan setinggi 10 cm.

Upaya tersebut direspons positif masyarakat dan pemilik toko. Sebab sejak letusan Kelud Kamis 13 Februari 2014 malam, aktivitas perdagangan di Kota Kediri lumpuh. "Cari bahan makanan susah," kata Vivien, ibu rumah tangga di Kelurahan Bujel.

Gunung Kelud berada di perbatasan tiga kota, yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Pada Kamis malam lalu, Kelud meletus, dan abunya terbang hingga mencapai beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Selama dua hari, seluruh penerbangan dari dan ke kota-kota di Pulau Jawa lumpuh.
16 February 2014
Petani Kediri Gagal Panen Akibat Erupsi Kelud
Radio ANDIKA, Kediri- Jatim- Kediri - Para petani di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, gagal panen, setelah tanaman mereka tersapu debu vulkanik akibat erupsi Gunung Kelud (1731 mdpl).
 
Kuswari (34) warga Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Sabtu, mengatakan bulan ini harusnya tanaman cabainya sudah waktunya panen.
 
"Saya tanam cabai kecil dan merah sejak akhir tahun lalu dan memang bulan ini waktunya penen. Belum sempat dipanen sudah terkena debu vulkanik dan pasti mati tanamannya," katanya ketika ditemui di tempat pengungsian.
 
Ia mengatakan mempunyai luas tanaman sekitar 1,25 hektare yang semuanya ia tanami cabai. Diperkirakan, dengan luas lahan itu bisa menghasilkan sampai 15 ton.
 
Saat ini, kata dia, harga cabai juga sedang bagus, sekitar Rp20 ribu per kilogram. Dengan harga yang cukup bagus tersebut, sampai ratusan juta.
 
Uang hasil pendapatan itu, selain untuk mengembalikan modal, juga untuk sewa lahan. Setiap 0,25 hektare sewanya mencapai Rp7-Rp9 juta per tahun. Cukup mahal, mengingat daerah itu memang subur.
 
Ia saat ini bingung memikirkan tentang hasil pertaniannya yang gagal panen tersebut. Uang modal yang ia gunakan adalah hasil pinjaman, dan tetap harus dikembalikan, namun gagal panen akibat terkena debu vulkanik yang panas pascaerupsi Gunung Kelud.
 
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Toyib (45), warga Desa Kebonrejo lainnya. Ia juga menanam cabai dengan luas lahan sekitar 0,25 hektare.
 
Ia masih lebih beruntung, karena tanamannya sudah pernah panen, walaupun hanya dua kali. Panen itu pun juga belum maksimal, karena hasil panen maksimal itu ketika sudah panen sampai 18 kali.
 
"Saya sudah pernah panen, tapi itu masih panen di awal, jadi produksi belum maksimal. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini alam," ucapnya.
 
Di Kecamatan Kepung, didominasi dengan aktivitas pertanian, misalnya bertanam cabai, tomat, dan sejumlah tanaman sayur lainnya.
 
Jarak antara Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung dengan Gunung Kelud hanya sekitar 5-6 kilometer. Untuk itu, saat gunung meletus, mereka juga mengungsi. Saat ini, mereka mengungsi di SDN Siman, Kecamatan Kepung, yang lokasinya berada di daerah aman.
 
Pemerintah daerah sendiri belum mendata dengan pasti kerugian akibat erupsi Gunung Kelud yang ada di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, baik bangunan ataupun lahan pertanian.
 
Pemerintah saat ini lebih mengutamakan pemberian fasilitas kepada para pengungsi, seperti untuk logistik, perlengkapan tidur, serta fasilitas MCK.
 
Pemerintah juga meminta agar masyarakat mematuhi aturan PVMBG, agar tidak masuk dalam zona berbahaya, 10 kilometer dari puncak kawah.
 
"Kerusakan kami hitung, tapi untuk sekarang diutamakan mengatur logistik," ucap Pelaksana Tugas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkab Kediri Edhi Purwanto.(ANtara jatim)
16 February 2014
Bulog Kediri Mulai Distribusikan Beras
Radio ANDIKA, Kediri- Jatim- Bulog Sub Divre V Kediri menyiapkan sekitar 100 tom beras untuk bencana erupsi gunung Kelud. Sementara, hingga saat ini Bulog sudah mendistribusikan sekitar 50 ton pada warga pengungsi di Kabupaten Kediri, dan 5 ton ke wilayah Kota Kediri.
 
Kepala Bulog Sub Divre V Kediri Arif Mandu mengatakan, untuk kebutuhan bencana erupsi gunung Kelud, pihaknya menyediakan sejumah 100 ton beras untuk tahap pertama. Jika dianggap kurang pihaknya akan menambahnya hingga 100 ton untuk  tahap kedua. Jika jumlah itu juga d irasa kurang, menurut Arif, pihak pemerintah bisa mengajukan lagi sesuai kebutuhan melalu pemerintah provinsi Jatim.
 
“Intinya berapapun kebutuhannya kami siap melayaninya. Tahap pertama ini kita sediakan 100 ton dan sudah terdistribusikan kelapangan sebesar 50 ton diwilayah Kabupaten Kediri dan 5 ton ke wilayah Kota Kediri. Ini sudah kita distribusi sejak tanggal 14 Pebruari kemarin,” Jelas Arif Mandu. Minggu, (16/2)
 
Arif mengatkan, permintaan yang diajukan oleh pemerintah Kabupaten Kediri untuk penganggulangan bencana saat ini sebesar 80 ton. Sedang untuk Kota Kediri, pemkot mengajukan sebesar 50 ton. Jumlah tersebut di ambil oleh pemeritah daerah masing-masing secara bertahap.
 
“Sementara, Pemkab Kediri sudah mengambil 50 ton dari 80 ton jumlah yang diminta. Sedang Pemkot Kediri masih mengambil 5 ton dari jatah yang diajukan,” lanjutnya.
 
Untuk mengambil kebutuhan tersebut, Arif menyatakan, Bulog Kediri menyediakan waktu 24 penuh, tanpa hari libur. Arif mengatakan, kapanpun beras kebutuhan bencana itu akan diambil, pihaknya siap melaninya.(Adakita.com)
Page 554 of 562     ‹ First  < 552 553 554 555 556 >  Last ›