Lintas Jawa Timur

16 October 2018
Kebiasaan Emak-Emak Lupa Matikan Kompor Jadi Inspirasi Pelajar Lamongan
Emak-emak dianggap memiliki kebiasaan lupa mematikan kompor saat keluar rumah. Hal ini kemudian menginspirasi tiga pelajar SMK di Lamongan untuk menciptakan alat pendeteksi kebocoran gas dan kebakaran.

Ketiganya adalah siswa-siswi SMK Muhammadiyah 1 Lamongan, yaitu Alfina Rossi Pratama, siswi kelas X farmasi, M Solahudin Fahmi dan Kania Karuniawati, keduanya kelas XI. Alat yang mereka ciptakan diberi nama Sigacor atau Pendeteksi Gas Bocor.

"Sering kita mendengar ibu-ibu ketika sedang di pasar atau dimana saja tiba-tiba teringat kalau mereka lupa apakah sudah mematikan kompor atau belum," kata salah satu dari ketiga siswa tersebut, M Solahudin kepada detikcom, Selasa (16/10/2018).

Solahudin menjelaskan, alat ini merupakan rangkaian antara alat deteksi suhu dan gas dengan mikrokontroler (arduino). Lalu arduino dihubungkan dengan sumber tenaga seperti.

Dari sini alat tersebut dapat diatur secara headless agar dapat mendeteksi suhu yang diinginkan. Dengan cara yang sama, alat ini juga diatur agar dapat terhubung dengan media sosial dan email.

"Untuk mendeteksi gas, ibu-ibu tinggal meletakkan alat kecil ini di dekat kompor. Alat ini memiliki sensor suhu dan sensor gas yang di-setting dengan suhu di atas 40 derajat. Bila mendeteksi suhu di atas itu akan secara otomatis mengirimkan sinyal. Alat ini juga dapat mendeteksi gas yang mudah terbakar, seperti gas elpiji," timpal Alfina.

Lebih jauh, Alfina menuturkan, ada 4 macam peringatan yang terhubung dengan alat ini, yaitu peringatan langsung melalui buzzer atau alarm, email, Twitter dan juga aplikasi.

Alfina mengungkapkan aplikasinya saat ini telah tersedia di Play Store sehingga tinggal diunduh dan dihubungkan. Nama aplikasikanya adalah Blynk.

"Alat ini sudah kami ujicobakan dan kami pasang di Laboratorium dan kantin sekolah kami," jelasnya.

Solahudin mengaku tak menemui kendala berarti saat membuat alat sederhana namun berguna ini. Proses pembuatannya juga hanya memakan waktu sepekan.

"Untuk membuat alat inipun sangat murah dan mudah, yaitu hanya sekitar Rp 150 ribu saja untuk total keseluruhan biaya yang kami keluarkan," jelasnya.

Selain itu, alat ini memiliki sejumlah kelebihan seperti ukurannya yang kecil, ringan dan mudah diaplikasikan dimanapun. Apalagi alat ini juga tidak membutuhkan sumber daya yang besar karena bisa menggunakan powerbank atau charger handphone biasa.

Ditambahkan guru pembimbing tim mereka, M Ali Alfian, kebocoran gas biasanya tidak langsung mengakibatkan ledakan, tetapi menunggu gas itu pekat baru kemudian terjadi kebakaran bilamana ada percikan api.

"Jadi setelah kita mendapat peringatan dari alat ini, kita bisa melakukan langkah pencegahan supaya tidak sampai terjadi kebakaran," jelas Alfian.

Ia pun berharap alat ini bisa diproduksi secara massala agar dapat digunakan secara luas. Hanya saja Alfian mengatakan untuk saat ini rencana itu belum dapat terealisasi karena pihak sekolah masih kesulitan untuk mengurus HAKI-nya, baik itu perijinannya ataupun biayanya.

"Jadi kami harap pemerintah daerah atau dinas terkait bisa membantu kami untuk mematenkan Haki nya, supaya kalaupun diproduksi masal kita tidak akan kehilangan hak cipta," pungkasnya.(Eko Sudjarwo - detikNews/jko)
16 October 2018
Korban Gempa Palu di Mojokerto Terima Bantuan
Komunitas Pelangi Indonesia memberikan bantuan kepada korban gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR) dan tsunami Palu yang merupakan warga Mojokerto. Pasangan suami istri (pasutri) ini menerima secara langsung.

Mereka yakni Nur Afif (27) dan Dian Permata Sari, (27) dan putranya, Rizky Wildan Maulana (8). Mereka tak mampu membendung tangisnya saat komunitas Pelangi Indonesia bersilaturahmi sekaligus menyerahkan bantuan sebesar Rp5 juta, paket sembako dan pakaian.

"Sungguh, yang saya ingat waktu itu seperti kiamat. Alhamdulilah sekarang anak saya sudah bisa sekolah di SDN Kutorejo. Cuma sampai sekarang suami saya belum mendapat pekerjaan, sudah cari tapi belum dapat," tuturnya, Selasa (16/10/2018).

Komunitas Pelangi Indonesia yang merupakan gabungan dari beberapa komunitas dan relawan di Kabupaten dan Kota Mojokerto ini mendatangi kediaman orang tua mereka di Dusun Sambisari, Desa Kutorejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.

Koordinator penggalangan dana, Imam Maliki mengatakan, selama satu minggu lebih mereka menggelar penggalangan dana dan membuka posko peduli bencana Palu, Sigi dan Donggala. "Bantuan yang disalurkan ini adalah hasil penggalangan dana dari beberapa komunitas," ungkapnya.

Termasuk dari warga Kabupaten dan Kota Mojokerto. Diantaranya, berupa uang tunai, paket sembako, mie instan dan pakain layak pakai. Masih kata Imam, dalam waktu satu minggu penggalangan dana mencapai Rp58,4 juta. Itu belum termasuk donasi yang hingga saat ini terus mengalir.

"Masih banyak pihak yang berniat menyalurkan donasinya ke posko bantuan di PC NU Kota Mojokerto sehingga diputuskan diperpanjang hingga satu minggu ke depan. Kami juga berencana menggelar pentas teatrikal, musik dan seni sebagai penutup," tambah Koordinator Gusdurian Mojokerto ini.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
16 October 2018
 Perangi Penyakit Tuberkulosis, Tulungagung Bikin Perda untuk Memudahkan Pembiayaan

Panitia Khusus (Pansus) III DPRD Tulungagung tengah membahas rancangan peraturan derah (Ranperda) Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis (TB).

Perda penanggulangan TB ini dinilai sangat penting, karena penderita penyakit ini masih tinggi.

Bahkan menurut Ketua Pansus III DPRD Tulungagung, Imam Khoirudin, angka yang terungkap sekitar 30 persen dari jumlah sebenarnya.
 

“Perlu upaya untuk menanggulangi TB di Tulungagung. Diharapkan dengan Perda ini memudahkan segala upaya memerangi penyakit ini,” terang Imam.

Saat ini baru ada tiga pemerintah daerah di seluruh Indonesia yang mempunyai Perda penanggulangan TBC.

Di dalam Perda ini nantinya akan ada alokasi anggaran khusus untuk memerangi TB.

Anggaran ini disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.

Selain itu ada kewajiban semua klinik dan rumah sakit swasta maupun negeri untuk mendata serta mencatat setiap pasien TB.

Data pasien ini kemudian harus diserahkan ke Dinas Kesehatan.

Basis data pasien ini yang digunakan untuk memerangi TB secara individu maupun berbasis lingkungan.

“Kalau ada klinik atau rumah sakit yang tidak mencatat dan menyetorkan data pasien TB, maka bisa kena sanksi. Sanksi terberat bisa berupa pencabutan izin operasional,” tegas Imam.

Ranperda ini sudah masuk tahap finalisasi. Diperkirakan akhir tahun Perda Penanggulangan TB ini bisa disahkan.

Perda akan efektif berlaku tahun 2019. Termasuk alokasi anggaran dari Pemkab Tulungagung.

Data tahun 2017, jumlah penderita TB di Tulungagung sebanyak 1.049 orang.

Dari jumlah itu, 25 orang di antaranya adalah pasien TB resisten obat.

Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka kejadian di Jawa Timur sebesar 289 penderita per 100.000 penduduk.

Dengan jumlah penduduk Kabupaten Tulungagung sebesar 1.000.026 jiwa, maka seharusnya ada 2984 pasien TB.

Sehingga jika diestimasi, masih ada sekitar 1935 pasien TB yang belum ditemukan.(David Yohanes-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
15 October 2018
Jagung Langka dan Mahal, Ribuan Peternak Demo di Pemkab Blitar
Ribuan peternak di Kabupaten Blitar, menggelar aksi unjuk-rasa di depan Kantor Pemkab Blitar, Senin (15/10). Massa menuntut ketersediaan jagung yang langka dan mahal di pasaran.

Massa juga membawa telor rusak, dan beberapa ekor ayam yang diberi pakan nasi aking. Mereka juga menuntut agar pemerintah segera menormalkan dan menstabilkan harga pakan ayam, khususnya harga jagung.

Mereka membawa berbagai poster tuntutan, presiden copot menteri pertanian, normalkan harga jagung, save peternak kerakyatan, turunkan menteri pertanian amran sulaiman.

Dalam orasinya, massa menuntut ketersediaan jagung yang langka di pasaran, dan mengatasi mahalnya harga jagung. Bahkan, massa juga membawa batrei yang berisi belasan ekor ayam dan telor yang rusak akibat pakan ayam tidak tersedia.

Massa menagku memberi makan ayam ternak mereka dengan nasi aking. Pasalnya, selain harga jagung yang mahal juga langka dan tidak ada di pasaran.

Selanjutnya, perwakilan massa masuk ke kantor Pemkab Blitar untuk menyampaikan aspirasinya. Diakhir mediasi, perwakilan massa juga menyerahkan telor yang rusak dan ayam kepada pihak pemkab, sebagai simbol menjeritnya peternak.

Koordinator Aksi, Sukarman mengatakan, peternak mendesak kepada pemerintah pusat segera menormalkan harga jagung, yang langka dan mahal di pasaran.

"Akibat jagung langka, produksi telor menurun dan peternak mengalami kerugian," jelas Sukarman.

Dicky Cubandono, Kepala Bakesbangpol Kab Blitar, menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah, agar segera mengatasi permasalahan  ketersediaan jagung di pasaran.

"Karena jagung menjadi pakan utama bagi hewan ternak, khususnya ayam petelor," jelas Dicky Cubandono.

Para peternak memberikan deadline hingga 6 hari kedepan, jika sampai tanggal 21 Oktober jagung tetap langka dan mahal di pasaran, maka para peternak akan berdemo dan mengadukan ke Predisen Jokowi.(Moch.Asrofi-Pojokpitu.com/jko)
15 October 2018
 Truk Tangki vs Kontainer di Kota Malang, Kaki Kernet Terjepit, Tengok Aksi Penyelamatannya Ini

Kecelakaan lalu lintas terjadi antara truk tangki dan kontainer di Jalan A Yani Utara, Kota Malang, Senin (15/10/2018) siang.

Akibat kecelakaan ini, kernet truk tangki terjepit dan kemacetan lalu lintas tak terhindarkan.

Menurut, satpam perumahan Riverside, Nurhadi, kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 11.00 wib.
 

Saat itu, kontainer bernopol L 9497 UD dari utara putar balik di depan pintu masuk perumahan Riverside.

Tak disangka, bagian belakang truk kontainer ditabrak truk tangki bernopol B 92221 KJ yang berjalan dari arah selatan.

Sulitnya evakuasi kenek truk yang kakinya terjepit memaksa petugas menggunakan kendaraan forklift untuk mengangkat beban kontainer yang ditabrak kepala truk tanki .(Hayu Yudha Prabowo-Surya.co.id/jko)

 
15 October 2018
Wali Kota Risma, Pejabat Negara yang Peduli Museum
Wali Kota Surabaya Tri Rismahairni meraih penghargaan Purwakalagrha sebagai Pejabat Peduli Museum 2018. Penghargaan itu diterima langsung oleh Wali Kota Risma pada Indonesia Museum Awards di Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Ketua Pelaksana Indonesia Museum Awards 2018 yang juga pendiri Komunitas Jelajah,  Musiana Yudhawasthi mengatakan Wali Kota Risma dinilai layak menerima penghargaan itu karena memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan permuseuman di Kota Surabaya.

Menurut Musiana, di tangan Wali Kota Risma ini lah Kota Surabaya berubah. Dulunya Kota Surabaya gersang dan kini sudah berubah hingga mendapat julukan kota sejuta taman. Setelah sejuta taman, Wali Kota Risma juga bermimpi Kota Pahlawan ini bisa menjadi kota seribu museum. 

“Makanya, setiap tahun dia mempunyai target untuk membangun museum baru di Surabaya dengan menggandeng berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, khususnya yang memiliki bangunan dan benda-benda yang bernilai sejarah,” kata Musiana dalam sambutannya saat pemberian penghargaan.

Musiana menjelaskan bahwa Wali Kota Risma juga bercita-cita kotanya nanti bisa memiliki berbagai macam museum, seperti Museum Cat, Kantor Pos, Museum Makanan Tradisional, dan Museum Industri.

Bagi Wali Kota Risma, lanjut Musiana, museum itu merupakan tempat yang istimewa. Makanya, beberapa benda pusaka miliki keluarganya, seperti ndok bledek, tombak dan beberapa keris peninggalan buyut-buyutnya, disimpan di Museum NU.

“Selama dia menjabat, sudah banyak museum yang diresmikan dan masih banyak museum lagi yang akan diresmikan, sampai akhirnya Kota Surabaya bener-benar menjadi kota seribu museum,” tegasnya.

Ia memastikan bahwa Indonesia Museum Awards ini memang sangat mengapresiasi terhadap tokoh dan pejabat yang telah ikut andil dalam perkembangan permuseuman. Mereka bergerak melalui berbagai  kebijakan yang dikeluarkannya, sehingga berdampak positif bagi dunia permuseuman di wilayahnya masing-masing.

Selain penghargaan kepada pejabat pemerintah peduli museum, Indonesia Museum Award 2018 juga memberikan penghargaan kepada Tokoh Peduli Museum, Pengusaha Peduli Museum, Perguruan Tinggi Peduli Museum dan Media Peduli Museum. Bahkan, ada pula penghargaan khusus untuk tokoh yang sepanjang hidupnya memiliki andil besar bagi perkembangan museum dan heritage, berupa penghargaan Pengabdian Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement).

Pada kesempatan itu, Indonesia Museum Award 2018 juga memberikan penghargaan Purwakalagrha untuk 6 kategori museum, yaitu Museum Cerdas, Museum Lestari, Museum Bersahabat, Museum Inspiratif, Museum Unik dan Museum Populer.

Sementara itu, Wali Kota Risma mengucapkan terimakasih banyak atas penghargaan yang diberikan kepadanya. Ia juga mengaku kaget setelah mendengar bahwa dapat penghargaan salah satu pejabat yang peduli terhadap museum.

“Terus terang saya kaget waktu diberitahu dapat penghargaan ini, karena saya belum melakukan apa-apa,” kata Wali Kota Risma merendah.

Padahal, ia mengaku sejak awal menjabat Wali Kota Surabaya, dia sudah bermimpi untuk menjadikan Kota Surabaya memiliki banyak perpustakaan dan banyak museum. "Saya punya mimpi saat saya jadi wali kota, bukan hanya ada satu perpustakan di Surabaya, tetapi saya ingin membangun 1.000 perpustakaan di Kota Surabaya. Dan saat ini Surabaya mempunyai 1.498 perpustakaan," kata Risma disambut tepuk tangan oleh hadirin.

Menurut Wali Kota Risma, keinginannya agar Kota Surabaya memiliki ribuan perpustakaan dan berbagai museum berangkat dari harapannya agar generasi muda di kota itu tidak melupakan sejarahnya. Apalagi hingga kini Surabaya dikenal dengan Kota Pahlawan, sehingga diharapkan anak-anak mengerti, mengenal dan tahu tentang sejarahnya itu.

Di samping itu, Wali Kota Risma bersama para veteran Kota Surabaya selalu rutin menggelar sekolah kebangsaan. Dalam sekolah itu, dijelaskan tentang tempat-tempat bersejarah di Surabaya, sehingga para generasi muda ini lebih paham akan sejarah kotanya sendiri. “Meskipun, saya sendiri juga terus belajar,” pungkasnya.(Ibnu F Wibowo-Beritajatim.com/jko)
15 October 2018
Peringati Tahun Baru Islam Ribuan Warga Ikuti Pawai
Ribuan warga Desa Kebonagung Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar, Minggu (14/10) siang mengikuti dan menyaksikan pawai guna memeriahkan peringatan tahun baru islam 1440 hijriyah.

Pawai ini dilakukan dengan menempuh jarak sejauh  5 kilometer mengelilingi desa setempat.

Peserta pawai berasal dari kalangan anak-anak, dewasa hingga orang tua. Mereka saling menampilkan kreasi terbaiknya, mulai pakaian adat, mobil hias, busana muslim, tari kreasi,  seni drum band bahkan seni tradisional reog juga turut memeriahkan pawai.

Pawai ini menyedot perhatian ribuan warga yang sejak siang memadati jalan yang dilalui pawai. Mutmainah, seorang warga menuturkan rela kepanasan hanya untuk menonton pawai bersama keluarga, "Pawai ini sangat meriah, dan mebuat warga tumpah ruah hingga membuat arus lalu lintas tersendat," jelasnya.

Sementara itu menurut Zaenal Ali Mustofa , Kepala Desa Kebonangung, mengatakan, pawai ini diikuti 100 kontingen berasal dari perwakilan RT dan RW. "Peserta dibebaskan  menampilkan karya kreasi terbaiknya,asalkan sopan memiliki nilai-nilai budaya lokal," tutur Zaenal Mustofa.

Warga berharap pawai serupa bisa digelar ditahun mendatang, dengan harapan bisa lebih banyak lagi jumlah kontingen  dan lebih memunculkan produk unggulan dan kreasi anak muda.(Moch.Asrofi-Pojokpitu.com/jko)
15 October 2018
 Ayah-Anak Berboncengan Motor di Tulungagung, Posisinya Terlalu ke Kanan, Selanjutnya Tragis

Kecelakaan fatal di Jalan Raya Tulungagung-Blitar, Desa Jabalsari, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

Kecelakaan Senin (15/10/2018) sekitar pukul 06.30 wib itu melibatkan sepeda motor Honda Scoopy dan truk.

Menurut Kasubag Humas Polres Tulungagung, Iptu Sumaji, sepeda motor AG 3526 RBP dikendarai Murjito (50) melaju dari arah timur.
 

Murjito membonceng Agum Alhafis (20), anaknya.

Dari arah berlawanan melaju truk K 1770 AS, yang dikemudikan Tandri (41), asal Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

"Diduga saat berpapasan pengemudi sepeda motor ini terlalu ke kanan. Dia masuk ke lajur berlawanan," terang Sumaji.

Akibatnya tabrakan antara motor matic dan truk tidak bisa dihindarkan.

Akibat kecelakaan ini Murjito dan Agum sempat mengalami luka serius di bagian kepala.
 

Karena lukanya sangat parah, keduanya meninggal sebelum sempat ditolong.

"Kedua korban dievakuasi ke RSUD dr Iskak dalam kondisi meninggal dunia," tambah Sumaji.

Anggota Satlantas Polres Tulungagung dan Inafis Polres Tulungagung sempat melakukan olah TKP.

Jenazah kedua korban sempat dikirim ke ruang pemulasaraan jenazah RSUD dr Iskak untuk divisum sebelum diserahkan ke keluarganya.(David Yohanes-Surya.co.id/jko)




 

 
15 October 2018
Ricuh di Universitas Kanjuruhan Malang Makan Korban Luka
Ricuh antara kubu pendukung pengurus lama dan baru di kampus Universitas Kanjuruhan, Kota Malang, kembali terjadi. Sejumlah orang pun menjadi korban luka.

"Ada korban luka, sudah dievakuasi karena lemparan batu," ungkap Kapolsekta Sukun Kompol Anang Tri Hananta saat dikonfirmasi detikcom, Senin (15/10/2018).

Anang menambahkan, ada lima korban luka dari kedua kubu yang ditemukan akibat kericuhan ini. Korban luka dikarenakan lemparan baru di antara dua kelompok saat bentrokan terjadi.

Beruntung seluruh korban luka hanya mengalami luka ringan. Namun kesemua korban juga langsung dilarikan ke RS Soepraoen yang berjarak 3 km dari kampus.

Puluhan mahasiswa yang diduga pendukung kubu Cristea Frisdiantara menyerbu kampus dan menguasai ruang rektorat. Kubu Soeja'i yang berada di dalam kampus berusaha melawan. Kericuhan akhirnya pecah kedua kelompok saling melempar batu hingga mengakibatkan jatuhnya korban luka.

Satu kompi gabungan aparat keamanan dari kepolisian dan TNI didatangkan ke lokasi untuk meredam situasi. Aparat keamanan akhirnya berhasil mengendalikan situasi sekitar pukul 10.15 WIB.

Mediasi kini tengah digelar oleh aparat keamanan agar bentrokan tak kembali terjadi. Aktivitas belajar-mengajar di kampus ini juga terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.

Konflik internal di Unikama seperti tak menemukan jalan damai. Kedua belah pihak yang berseteru mengklaim sebagai pengurus sah dari Perkumpulan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (PPLP-PT) PGRI yang menjadi penyelenggara pendidikan di Unikama.

PPLP pimpinan Christea Frisdiantara mengaku sebagai pengurus sah sesuai Surat Keputusan Kemenkum HAM, sementara PPLP pimpinan Soeja'i dikatakan telah habis masa jabatannya.

Karena konflik internal yang tak kunjung usai, Unikama bahkan sempat terancam dibekukan oleh Pendidikan Tinggi (Dikti) dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis).(Muhammad Aminudin - detikNews/jko)
10 October 2018
 Tak Punya Izin PTSP, PKL Kota Blitar Pasti akan Digusur Satpol PP. Begini Cara Daftarnya

Para pedagang kaki lima (PKL) di Kota Blitar harus mengurus izin di kantor Dinas Penanaman Modal Tenaga Kerja dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Blitar. Pengurusan izin itu untuk menata titik berjualan para PKL agar sesuai dengan zona yang sudah ditentukan Pemkot Blitar.

"Mulai sekarang, selain terdaftar di Disperindag, para PKL juga harus mengurus izin di PTSP," kata Kepala Dinas Penanaman Modal Tenaga Kerja dan PTSP Kota Blitar, Suharyono, usai sosialisasi masalah perizinan ke PKL di aula Satpol PP Kota Blitar, Rabu (10/10/2018).

Suharyono mengatakan cara mengurus izin untuk para PKL mudah dan tidak dipungut biaya. Para PKL tinggal datang ke bagian perizinan di kantor PTSP.
 

Bagian perizinan akan mengecek data PKL di aplikasi milik Disperindag. Jika PKL itu sudah terdaftar di aplikasi Disperindag, PTSP akan mengeluarkan izin.

"Kalau sudah terdaftar di aplikasi Disperindag berarti mereka sudah berjualan sesuai zona. Kami tinggal mengeluarkan izinnya saja," ujar Suharyono.

Bagi PKL yang belum terdaftar, harus mengurus pendaftaran dulu ke Disperindag.

Pendaftaran di Disperindag ini untuk mendata jenis dagangan dan lokasi berjualan PKL. Disperindag yang menentukan titik berjualan yang diperbolehkan untuk para PKL.

"Sesuai Perwali Nomor 47 Tahun 2016 tentang penataan PKL ada 42 titik yang diperbolehkan untuk aktivitas PKL," katanya.

Plt Kepala Satpol PP Kota Blitar, Juari mengatakan pengurusan izin ini untuk menata PKL agar berjualan sesuai zona yang ditentukan di Perwali.

Menurutnya, saat ini, masih ada PKL yang berjualan di zona larangan. Misalnya, di Jl Sudanco Supriyadi dan di Jl Kalimantan.

"Boleh berjualan di fasilitas umum, tapi harus sesuai dengan aturan. Selain itu, sebelum berjulan di fasilitas umum, mereka harus izin dulu ke Pemkot Blitar. Biar kami mudah memantaunya," kata Juari.

Satpol PP meminta para PKL agar segera mengurus izin berjualan di PTSP. Sebab, PKL yang tidak mengurus izin dianggap liar. Satpol PP berhak untuk menertibkan para PKL liar.

"Sekarang masih kami beri peringatan, tapi kalau tetap melanggar akan kami tertibkan," ujarnya.

Anton Haryadi, salah satu PKL di Jl Melati, mengatakan belum mengurus izin di PTSP.

Tetapi, dia mengaku sudah terdaftar sebagai PKL di Disperindag. Saat mendaftar di Disperindag, dia membawa surat rekomendasi dari kelurahan.

"Saya sudah mendapat kartu PKL dari Disperindag, tinggal mengurus izin ke PTSP saja," katanya.(Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
Page 1 of 830      1 2 3 >  Last ›