Lintas Jawa Timur

14 March 2019
Doble Track Nganjuk Dioperasikan
Pembangunan doble track rel kereta api antara Nganjuk sampai Baron sudah terselesaikan, meski di sebagian titik masih dilakukan pengerjaan oleh sejumlah pekerja. Rencananya, pada 14 Maret 2019, doble track tersebut akan dioperasikan.
Sejumlah pekerja masih melakukan pembangunan, dari penataan batu, dan juga penataan bantalan rel kereta, sejumlah alat berat yang ada juga masih dioperasikan untuk mempercepat pekerjaan pembangunan doble track.

Nampak sejemlah pekerja mengebut pekerjaan. Selain itu juga petugas dari PJKA yang juga ikut turun langsung melakukan pengawasan.

Dengan dioperasikannya doble track, dipastikan akan memperlancar arus perjalanan kereta api, karena tidak akan terjadi kereta kres atau kereta susulan. Selain itu, dimungkinkan akan terjadi penambahan kereta, karena jalur yang lebih lancar.

Sudarto, pengawas PPK, mengatakan, dengan dioperasionalkannya doble track diharapkan masyarakat lebih berhati - hati, karena kereta yang melintas tidak hanya dari satu jalur saja, dari Nganjuk sampai Baron ada 11 pintu perlintasan kereta, baik yang dijaga maupun tidak.

Adanya pengoperasian doble track rel kereta api, kelancaran dan kenyamanan angkutan kereta api akan lebih terjamin.(Achmad Syarwani-Pojokpitu.com/jko)
14 March 2019
 Fakta Lain Ibu Berbuat Terlalu Jauh Dengan Anak di Malang Saat Suami Dibui, Akhirnya Bernasib Sama

Fakta lain soal ibu di Malang yang telah berbuat terlalu jauh dengan anak kandungnya, di saat sang suami masuk bui.

Bukannya bersedih saat suami sekaligus ayah masuk bui karena kasus narkoba, ibu dan anak kandung ini sepakat untuk berbuat terlalu jauh.

Ya, perilaku Yeni Kunjayati (46) dan anaknya Artha Surya Wijaya (27) membuat warga Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Malang tak habis pikir.
 

Disaat suami sekaligus ayahnya tengah menjalani hukuman masuk penjara karena berurusan dengan narkoba, pasangan ibu dan anak ini malah melakukan hal yang sama.

Ibu dan anak tersebut ditangkap petugas karena menjadi bandar narkoba.

Keduanya kompak bahu-membahu berkecimpung dalam peredaran narkoba jenis sabu-sabu dan pil inex.
 

Berikut SURYAMALANG.com rangkum fakta soal ibu dan anak yang kompak menjadi pengedar narkoba di Malang.

1. Pemakai, pengedar, sekaligus bandar narkoba

Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung menjelaskan, membenarkan tersangka memang merupakan bandar narkoba.

"Mereka ini bukan hanya pemakai dan pengedar, tetapi merupakan bandar narkotika.

Tersangka diketahui sudah menjadi bandar narkoba sejak satu tahun belakangan.

Kemudian, suami dari tersangka ini mendekam di lapas Madura karena terjerat kasus yang sama dengan istrinya (narkoba)," terang Ujung di Polres Malang, Rabu (13/3/2019).

2. Penangkapan berawal dari Pil Koplo

Ujung menambahkan, penangkapan ibu-anak bandar narkotika tersebut berawal dari laporan masyarakat.

Laporan tersebut menerangkan bahwa di wilayah Kecamatan Lawang, kerap ditemui peredaran narkotika. Selain pil koplo jenis dobel L, juga inex dan sabu-sabu (SS).

Atas laporan tersebut, petugas melakukan penyilidikan di lokasi.

Hasilnya kedua tersangka tak bisa mengelak tertangkap petugas beserta barang buktinya.
 

3. Barang bukti yang disita

Dari penyelidikan serta penangkapan tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti:

2,71 ons atau 207,1 gram sabu-sabu, pil inex sebanyak 229 butir, 104 ribu butir pil dobel L alias pil koplo, serta beberapa alat hisap.

4. Skema distribusi narkoba

Sementara itu, saat ditangkap petugas Satresnarkoba Polres Malang, keduanya mengaku jika mendapatkan narkoba dikirim dari Pamekasan dan Mojokerto.

"Pil koplo itu dari Mojokerto, kalau sabu sama pil Inex dari Pamekasan," terang tersangka Artha yang akrab disapa Nyimit itu.

Nyimit menambahkan, barang haram tersebut dipesan melalui telepon.

Skemanya setelah melakukan transfer barang dikirim dengan cara ranjau di sejumlah wilayah.

Seperti Lawang hingga Pasuruan.

Dalam tempo setahun, Nyimit dapat kiriman narkoba lebih dari dua kali.

Selanjutnya setelah mendapatkan barang, Nyimit mengedarkan di seputar wilayah Kabupaten Malang.

Bahkan termasuk juga ke Kota Malang dan Kota Batu. Pembelinya adalah dari berbagai latar belakang masyarakat.
 

5. Harga jual

Tersangka mematok harga, untuk sabu-sabu dijual sebesar Rp 900 ribu setiap gram. Pil inex dijual Rp 160 ribu per-butir.

Sedangkan, pil koplo jenis dobel L dan Y, satu bungkus berisi 1000 butir dijual Rp 500 ribu. Tersangka tak kehabisan akal untuk menyamarkan barang haramnya itu.

Mereka menyamarkan pil koplo dengan kemasan Vitamin B1.

"Tapi Label Vitamin itu, bukan kami yang memberi. Soalnya langsung dari pemasok yang mengirim juga seperti itu," jelas Nyimit di samping ibunya Yeni Kunjayati, yang hanya diam serta berlinang air mata.(Fakhri Hadi Pridianto-.Suryamalang.com/jko)



 

 


 

 
13 March 2019
 Tuding Pemilihan Perangkat Desa Pule Kabupaten Kediri Sarat KKN, Ini yang Dilakukan Warga

Warga Desa Pule, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, melakukan unjuk rasa memprotes pembentukan Panitia Pengisian Perangkat Desa (P3D). Aksi demo warga ini dilakukan di depan Kantor Desa Pule, Rabu (13/3/2019).

Warga menuntut P3D Desa Pule dibubarkan karena dinilai cacat hukum dan tidak prosedural. Aksi demo ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan warga Desa Pule terkait rencana pengisian lowongan jabatan dua perangkat desa yakni Sekretaris Desa dan Kaur Tata Usaha dan Umum.

Warga mencurigai pengisian jabatan perangkat desa menjadi ajang kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) pihak kades.  Sementara saat dilakukan dialog, perwakilan warga ditemui Kades Pule Sugeng Widodo.
 

Sejauh ini masih belum ada titik temu karena pihak kades bakal jalan terus meski pengisian perangkat desa diprotes warga.

Perwakilan warga, Yuni Rahmad, mengatakan dari hasil dialog warga semakin yakin karena pihak P3D dan kades tidak bisa menunjukkan payung hukum pengisian perangkat desa.

"Saat ditanya warga apa dasar hukumnya tidak bisa memperlihatkan. Kami juga menyesalkan Camat Kandat yang ikut membiarkan dengan alasan pengisian perangkat menjadi tugasnya kades," jelasnya.

Yuni mengungkapkan selain payung hukum, catatan notulen rapat usulan pengisian perangkat desa juga tidak ada.

"SK Bupati dan Peraturan Desa (Perdes) soal pengisian perangkat juga tidak ada. Semuanya hanya atas perintah kades, sehingga pengisian perangkat desa ini harus dibatalkan," tegasnya.

Warga mengusulkan untuk membahas rencana pengisian perangkat desa dengan semua pihak terkait termasuk melibatkan BPD.

Aksi demo ini mendapatkan pengamanan petugas Polsek Kandat. Massa membubarkan diri dengan tertib dan berjanji bakal melakukan aksi lagi dengan massa yang lebih besar.
 

Saat dikonfirmasi, Kades Pule, Sugeng Widodo, menolak memberikan komentar terkait demo yang dilakukan warganya.

Sugeng langsung meninggalkan kantor Desa Pule usai melakukan pertemuan dengan warga yang berakhir buntu.(Didik Mashudi-Surya.co.id/jko)



 

 
13 March 2019
Pelaku Gorok Ibu Kandung Depresi Sejak Lulus SMA Pelaku Muhammad Ikyu Avianto (23) warga Dusun Sumber Dadi, Desa Gunung Sari,  Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto mengalami depresi sejak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Pelaku sempat dirawat di Nganjuk.

Kepala Desa (Kades) Gunung Sari, Susanto mengatakan, anak bungsu dari tujuh bersaudara tersebut sempat dirawat di Puskesmas Rejoso, Kabupaten Nganjuk. “Dia dirawat selama satu bulan karena depresi,” ungkapnya, Rabu (13/3/2019).

Masih kata Kades, pelaku depresi sejak lulus SMA karena dipicu himpitan ekonomi. Diduga, pelaku depresi lantaran tidak kunjung dapat pekerjaaan setelah lulus sekolah. Sementara, disisi lain, pelaku juga dapat dorongan dan tuntutan dari keluarga.

“Bisa jadi, cari kerja tidak dapat. Sedangkan dorongan untuk dapat penghasilan terus mengalir dari keluarga. Tapi yang jelas SMA kebawa masih normal, untuk korban mengalami luka cukup dalam di bagian leher karena kena sabetan pisau,” tuturnya.

Korban menjerit kesakitan dan lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Sambil berteriak minta tolong, kecuran darah juga terus keluar dari leher korban. Kerasnya jeritan korban mengundang warga yang sedang nongkrong depan rumah berdatangan.

“Warga langsung membawa korban ke puskesmas. Kondisi korban sudah banyak mengelaurkan darah dari lehernya. Bajunya juga sudah berlumuran darah, saya yang dapat laporan dari Kadus langsung melaporkan ke polsek,” jelasnya.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
13 March 2019
Situs Kuno di Tol Pandaan-Malang Diduga Permukiman Elit Abad 12
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur memperkirakan situs Sekaran di tengah Tol Pandaan-Malang merupakan kawasan permukiman abad ke-12. Kawasan tersebut diduga sebagai permukiman orang kaya raya.

Sebelumnya, BPCB menggelar pertemuan dengan warga sekitar yang menemukan cagar budaya di sekitar lokasi situs. Pertemuan digelar di Balai Desa Sekarpuro, yang juga diikuti Muspika setempat. Warga yang memiliki benda cagar budaya turut membawanya dalam pertemuan.

Kepala BPCB Jatim Andi Muhammad Said mengatakan, berdasarkan temuan terakota serta cagar budaya lain oleh warga di sekitar situs, menunjukkan jika lokasi situs merupakan kawasan permukiman bukan rakyat biasa.

"Tadi itu, benda-benda terakota itu banyak. Seperti kendi, tembikar dan lain-lain, akan memberikan informasi soal keberadaan situs itu. Dengan adanya seladon yang warna hijau itu, penanda jika pemiliknya orang kaya atau pejabat. Karena tidak mungkin rakyat biasa memiliki, karena itu mahal," kata Andi, Rabu (13/3/2019).

Selain pecahan teko, kendi dan lempengan besi, warga juga menemukan sebuah anting-anting berbahan emas. Menurut Andi, itu merupakan perhiasan yang diduga dimiliki di masa lampau.

Andi menambahkan, permukiman bisa diartikan luas. Meliputi sebuah kawasan yang dilengkapi tempat peribadatan, petirtaan serta gapura. Permukiman bisa juga berwujud rumah-rumah penduduk.

"Kalau kita lihat dari struktur batu bata merah tebal dan memanjang, bisa jadi seperti benteng kota. Tapi kalau strukturnya membelok bisa jadi itu candi, dan juga menjadi sebuah struktur gapura. Dan ini belum bisa interpretasi, karena belum menemukan secara betul," imbuhnya.

Dari struktur batu bata serta temuan benda-benda cagar budaya di lokasi situs, Andi memperkirakan bahwa permukiman tersebut berdiri di sekitar abad 12 sampai 13. "Itu masa Majapahit, abad 12 atau 12 masehi. Tapi belum tentu juga Majapahit. Makanya kita harus melakukan penelitian dan kajian lebih jauh," tambahnya.

BPCB kembali mengimbau kepada masyarakat Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang yang menemukan benda cagar budaya untuk melapor. Jika ingin benda temuan diberikan kepada negara, maka pihaknya siap memberikan kompensasi.

"Silakan melapor untuk membantu pendataan agar tidak hilang, serta meneliti situs yang tengah dilakukan ekskavasi," lanjut Andi.

Kewajiban warga negara untuk melaporkan kepemilikan benda cagar budaya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Apabila melanggar, dikenai Pasal 102 UU 11/2010 dengan ancaman penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp 500 juta.

"Tidak melaporkan selama 15 hari setelah menemukan, tentunya ada sanksi mengacu kepada undang-undang yang berlaku," pungkasnya.(Muhammad Aminudin - detikNews/jko)
13 March 2019
Mantan TKW Asal Blitar Ini Sukses Berwirausaha
Wanita satu ini dikenal mantan TKW yang sukses berwirausaha. Namanya Sulisyaningsih, sosoknya mungil tapi semangatnya luar biasa. Berjuang mendobrak keterpurukan ekonomi keluarganya. Bahkan sekarang bisa menggandeng beberapa mantan TKW lainnya untuk membangun usaha bersama.

Perjuangan hidupnya dimulai saat bisnis keluarganya bangkrut tahun 2000. Atas izin suami, Sulis nekat bekerja keluar negeri ke Hong Kong tahun 2001. Namun ternyata, keputusan itu bukan menjadi solusi. Justru sebaliknya, masa depan anaknya terancam akibat badai perselingkuhan yang dilakukan ayahnya.

"Dua tahun saya ke Hong Kong. Uang saya habis dan suami saya harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita lain. Tapi kontrak saya kurang tiga tahun. Mau tidak mau harus saya selesaikan," tutur wanita berusia 43 tahun ini kepada detikcom, Selasa (12/3/2019)
 
Praktis hasil jerih payah bekerja di negeri orang tak dinikmati. Pun oleh anak dan kedua orang tua yang merawat putri semata wayangnya. Namun Sulis masih beruntung. Dia mendapat majikan asal Australia yang paham dengan permasalahannya. Tahun 2005, Sulis disuruh pulang dan dicarikan pekerjaan di areal tambang batubara di Kalimantan.

"Saya bisa ajak anak saya kerja di Kalimantan. Saya kerja di sana 5 tahun. Dan pulang ke Blitar dengan modal lumayan untuk memulai usaha sendiri," jelas warga Desa Dayu Kecamatan Nglegok.

Sulis membeli lahan di kampungnya. Ditanami kacang tanah dan dirawat dengan sepenuh hati. Hasilnya, dia berhasil menjadi pemasok kacang untuk pabrik camilan ternama di Pati, Jawa Tengah.

"Alhamdulillah sebulan bisa setor dua kali ke Pati kapasitas 225 ton/bulan. Kalau satu kali antar itu dapat bayaran sekitar Rp 70 juta," ungkapnya.

Dari hasil panen kacang itu, Sulis lalu membeli kambing dan sapi. Kedua ternak ini digemukkan dan akan panen setiap tiga bulan. Sekarang kambing berjumlah 33 ekor dan sapinya sebanyak 16 ekor. Sisa keuntungan, dia pakai lagi dengan mengajak mantan TKI lain membuat usaha keripik, gula merah dan tas.

"Mereka yang pulang, saya ajak bikin usaha bersama. Saya ajak datang ke pelatihan ketrampilan yang difasilitasi berbagai stakeholder. Pokok apa saja agar mereka tidak berpikir balik kerja keluar negeri. Khususnya yang ibu rumah tangga," tandas wanita berhijab ini.

Ketua Perkumpulan TKI Purna dan Keluarga ( Pertakina) ini, menggandeng kemitraan dengan tiga mantan TKW membuat usaha kecil ini. Omzetnya masih sekitar Rp 15 juta per bulan. Karena menyesuaikan modal yang mereka gabung bersama. Namun untuk buruh migran Indonesia yang relatif lama kerja di luar negeri dan ingin pensiun, Sulispun menggalang konsinyasi membangun kandang peternakan ayam sistem closed house.

"Ada 17 teman yang berencana pulang dan mendirikan usaha di sini. Saya ajak konsinyasi bikin kandang ayam closed house yang prospek bisnisnya sangat bagus di Blitar. Ini Alhamdulillah sudah berdiri di daerah Gandusari dan Kademangan. Alhamdulillah kemarin sudah panen 14.000 ayam," pungkasnya.(Erliana Riady - detikNews/jko)
13 March 2019
Selamatkan Situs Sekaran, Jalur Tol Malang-Pandaan Bakal Diubah
Penemuan situs Sekaran di kilometer 37 atau seksi lima proyek pembangunan tol Malang-Pandaan di Desa Sekarpuro, Kabupaten Malang bakal mengubah jalur tol dari yang sudah direncanakan di awal. PT Jasamarga Pandaan-Malang juga mengisyaratkan jalur bakal digeser.

General Manager Teknik PT Jasa Marga, M Jajuli mengatakan, demi menyelematkan cagar budaya pihaknya bersedia mengubah jalan tol atau menggeser ke arah timur. Langkah awal demi penyelamatan situs pihaknya sudah menghentikan proses pembangunan kontruksi di area situs.

“Jika memang ini benar situs purbakala jalan tol akan kita geser kita ubah. Masih memungkinkan diubah, kita juga terkendala pembebasan 50 lahan yang tinggal eksekusi,” kata Jajuli, Rabu (13/3/2019).

Jajuli mengungkapkan seksi terakhir saat ini masih terkendala pembebasan lahan di wilayah Madyopuro yang bakal menjadi area Exit Tol Malang-Pandaan. Awalnya ditargetkan rampung pada Juli namun mundur hingga akhir tahun nanti.

“Jadi tidak masalah pembangunan kontruksi dihentikan sementara. Pekerja kita alihkan ke area lain terlebih dahulu. Ini juga untuk memudahkan proses eskavasi dari BPCB Trowulan,” papar Jajuli.

Sementara itu, lokasi penemuan situs terletak di 30 meter dari garis tengah jalan. Rencananya jika di ubah, jalan tol bakal digeser 10 meter ke arah timur atau digeser ke arah sungai. Jika benar diubah nantinya jalan tol bakal lurus dengan jembatan di area Cemorokandang.

“Tapi kita menunggu rekomendasi BPCB. Bisa digeser ke arah sungai nantinya jalan tol bakal lurus dengan jembatan. Antisipasi kemiringan sungai nanti ada perkuatan dinding penahan tanah semacam turap,” tandasnya.(Lucky Aditya Ramadhan-Beritajatim.com/jko)
13 March 2019
 Baznas Kota Kediri Siap Membuat Aplikasi Penyaluran Zakat Transparan

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Kediri bakal membuat aplikasi agar penyaluran zakat dan data penerima zakat lebih transparan. Upaya itu dilakukan agar penyelenggaraan zakat menjadi lebih baik.

"Rencana dari pengurus Baznas ke depan akan ada aplikasi supaya lebih transparan lagi sehingga muzakki yang memberikan dananya dapat diketahui dan data mustahiq tidak akan tumpang tindih," kata Lilik Muhibbah, Wakil Wali Kota Kediri saat membuka Rakerda Baznas 2019 di Ruang Joyoboyo, Selasa (12/3/2019).

Pada kesempatan itu, Lilik Muhibbah juga memotivasi penerima zakat yang hadir untuk berusaha dan berjuang sehingga kelak dapat menjadi pemberi zakat.
 

Sedangkan untuk pengurus Baznas, Wawali berharap agar sinergitas dengan semua pihak dapat terus terjalin dengan baik. "Kami juga berharap, setelah acara ini yang dulu menjadi mustahiq Insya Alloh ke depan akan menjadi muzakki," tandasnya.

Selain itu, Baznas bisa bersinergi dengan perbankan dan kantor-kantor swasta untuk meningkatkan jumlah muzakki. Diharapkan sinergi yang sudah dilakukan Baznas senantiasa berjalan dengan baik. Sehingga komunikasi ke depan semakin lancar.

Jumlah mustahiq sendiri pada 2019 meningkat sebesar 2.765 di banding 2018 yang hanya sebesar 2.050.

Wawali mengharapkan, pelaksanaan Rakerda dapat dijadikan sebagai wadah dan momentum perbaikan pengelolaan zakat di Kota Kediri.

"Rakerda Baznas 2019 semoga dapat menjadi wadah merumuskan, mendiskusikan dan sharing informasi terkait permasalahan yang ada di masing-masing unit sehingga dapat merumuskan program yang tepat meningkatkan penerimaan zakat di Kota Kediri," ucapnya.
 

Karena selama ini unit pengelola zakat belum maksimal untuk menyampaikan baik yang ada di sekolah dan kelurahan. Melalui Rakerda Baznas dapat memnerikan pencerahan.(Didik Mashudi-Surya.co.id/jko)


 

12 March 2019
 PTSL Mampu Mendongkrak Peredaran Uang Di Wilayah Trenggalek

Kantor Pertanahan Trenggalek menargetkan seluruh sertifikat tanah yang diikutkan program Pendataan Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) akan dibagikan sebelum 17 Agustus 2019.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Pertanahan Trenggalek, Ardi Rahendro saat pemasangan patok tanah di Desa Dermosari, Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek, Senin (11/3/2019).

Menurut Ardi, target nasional 2013 NKRI bersertifikat. Sementara di Trenggalek, pihaknya menargetkan tahun 2022 tanah di Trenggalek sudah tersertifikasi 100 persen. "Untuk tahun itu, ada 63.000 bidang tanah yang diikutian PTSL," ungkap Ardi.
 

Namun, masih ada 18.000 bidang tanah yang belum ada pendanaan untuk PTSL. Karena itu, Ardi berharap, Pemkab Trenggalek ikut ambil bagian dalam pembiayaan ini. "Semua proses di BPN (Badan Pertanahan Nasional) gratis, sampai sertifikat diserahkan," tegas Ardi.

Lebih jauh Ardi mengungkapkan, PTSL menjadikan tanah mempunyai nilai ekonomis semakin tinggi. Sebagai contoh, tahun 2017 ada peredaran uang di Trenggalek sebesar Rp 307 miliar dari sertifikat yang dijaminkan.

Sedangkan tahun 2018 jumlahnya bertambah menjadi Rp 343 miliar. "Dan mayoritas adalah sertifikat yang diterbitkan dari program PTSL," tutur Ardi.

Karena itu, Ardi berharap, masyarakat tidak ragu untuk menjaminkan sertifikat tanahnya, jika butuh modal.

Namun ia mengingatkan, agar sertifikat ini dijaminkan ke lembaga keuangan yang kredibel. "Jangan ragu "sekolahkan" sertifikat, tapi jangan sekolahkan di "SD bank thithil". Bisa tidak balik atau malah hilang nanti sertifikatnya," ucapnya.

Untuk menyukseskan PTSL, Ardi meminta masyarakat menyiapkan dokumen tanah yang dimiliki. Jika tidak bukti dokumen sama sekali, warga diminta jujur ke petugas Kantor Pertanahan.
 

Nantinya petugas akan menerbitkan dokumen pengganti. Tahun 2019 ini, hanya Kecamatan Pule satu-satunya yang ikut PTSL 100 persen.(David Yohanes-Suryamalang.com/jko)


 

12 March 2019
Tabungan Warga Terkuras Rp65 juta, Polisi Belum Terima Laporan
Terkait kasus dugaan penipuan yang menimpa nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Simpedes, Suhartoyo warga Dusun Ngepung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, pihak Polres Mojokerto Kota mengaku belum ada laporan.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota, AKP Ade Warokka mengatakan, belum ada laporan terkait dugaan penipuan yang dialami nasabah BRI. “Belum ada laporan terkait kasus itu, saya juga sudah cek ke jajaran Polsek Gedeg. Disana juga belum ada laporan soal kasus ini,” ungkapnya, Selasa (12/3/2019).

Masih kata Kasat, seharusnya korban melapor ke pihak kepolisian bila merasa menjadi korban penipuan. Menurutnya, pihak bank mempunyai aturan sendiri. Namun semua kembali ke korban karena korban punya hak untuk melapor jika memang sudah menjadi korban.

“Harusnya ada laporan atau delik aduan dari nasabah. Terserah korban juga, bila tak melapor tak masalah. Perihal polisi internal yang dimiliki bank saya tidak paham, itu aturan perbankan sendiri atau otoritas perbankan. Tetapi nasabah punya hak untuk melaporkan kalau merasa tertipu,” tegasnya.

Sebelumnya, nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Simpedes diduga menjadi korban penipuan, uang di tabungan terkurang sebesar Rp65 juta. Korban yakni Suhartoyo warga Dusun Ngepung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Dengan modus memberikan bonus pulsa Rp500 ribu dan mengatasnamakan dari pihak bank. Pulsa masuk hanya sebesar Rp80 ribu, tak sesuai dengan janji si penelepon. Kemudian Suhartoyo mendatangi ke Agen BRI Ngepung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg.

Ia membawa kartu ATM dan buku tabungan untul mengecek saldo yang ada di tabungannya. Suhartoyo pun terkejut mendapati saldonya tinggal Rp2.071.187. Padahal, sebelumnya saldo Suhartoyo sebesar Rp67.071.187. Dari rekening koran diketahui jika tabungan Suhartoyo terkuras Rp65 juta dengan empat kali penarikan.

Penarikan pertama sebesar Rp10 juta, kedua sebesar Rp40 juta, ketiga sebesar Rp10 juta dan yang terakhir sebesar Rp5 juta. Jangka waktu penarikan berselang tak sampai 20 menit. Ada dua nama yang melakukan penarikan, yakni Yuli dan Nurfitria. Kantor Cabang BRI Mojokerto belum bisa dikonfirmasi terkait kasus ini.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
Page 2 of 168      < 1 2 3 4 >  Last ›